https://www.effectivegatecpm.com/xacwkdnx?key=f75342ac69385ea840bad56bf7fe064d

Wednesday, April 1, 2015

Berani Bertanggungjawab

Pic. Source: billofrightsinstitute.org
Sekali dalam sebulan, kami pergi ke supermarket untuk membeli perlengkapan kebutuhan rumah tangga. Kalau pas ada uang lebih, biasanya Ayah juga membeli sesuatu yang agak aneh. Misalnya, makanan-makanan khusus yang jarang sekali kami nikmati. Biasanya, harganya relatif tinggi. Tapi, kami tahu kalau Ayah selalu berusaha untuk membelinya sekali-sekali. “Biar kita tahu rasanya,” kata Ayah. “Kan yang penting sudah pernah mencicipi….” Begitu lanjutnya.

Kami paham bahwa Ayah ingin agar anak-anaknya tidak ketinggalan zaman. Yaa setidaknya kalau teman-teman disekolah pada cerita tentang makanan atau buah itu, anak-anak Ayah tidak melongo aja. Cuman ya itulah, kadang-kadang Ayah kena batunya juga. Soalnya, kalau rasanya enak banget; biasanya anak-anak meminta Ayah membelinya lagi. Padahal, belum tentu saat itu Ayah sedang punya uang lebih. Tapi, nggak apa-apa juga sih. Soalnya anak-anak nggak pernah memaksa Ayah untuk membelinya. “Kalau pas sedang ada uang lebih aja ya Yaah….” Begitu kakak bilang.

“Iyya… Insya Allah nanti Ayah belikan lagi. Tolong doain kerjaan Ayah lancar ya…, biar rezeki kita terus mengalir …..” Begitu biasanya Ayah menjawab. “Lagian juga kan kita nggak mesti sering-sering memakannya ya kan?” Nah, kalimat terakhir Ayah itu juga sudah menjadi jawaban standar. Ayah selalu berkata begitu.

Di hari belanja itu, Ayah kembali membeli makanan yang unik. Kali ini dikemas dalam botol kaca. Harganya lumayan. Tapi Ayah mengambil dua. Lalu diletakkannya didalam trolley belanjaan. Setelah itu, kami berjalan menuju meja kasir. Tapi nggak jadi. Soalnya, ternyata Mama masih terjebak diantara rak-rak kosmetik. Lagian juga semua meja kasir sedang sangat sibuk. Antrinya panjang banget. Kayaknya, ini hari Ibu-ibu mencomot benda-benda dari rak-rak supermarket. Dan hari Bapak-bapak menguras isi dompet.

Anak-anak nggak mungkin betah menunggu antrian seperti itu. Apalagi Kakak dan Abang. Mereka berlari kesana kemari. Kejar-kejaran seru sekali. Soal itu, Ayah nggak pernah melarangnya. Dibiarin aja. Soalnya, Ayah percaya jika anak-anak memang mesti banyak bergerak.   

Kakak mengejar. Abang berlari. Keduanya menuju Ayah yang sedang mendorong troli. Lalu….. BRAAAK! Mereka menabrak troli yang sedang ayah pegangi. Kakak dan Abang langsung terdiam. Mematung saja. Sambil memandang seonggok benda yang berceceran di lantai. Makanan yang Ayah beli tadi. Dua-duanya jatuh karena letaknya berada di paling atas tumpukan belanjaan itu. Dan dua-duanya pecah sampai tidak mungkin dimakan lagi.

Dengan wajah takut, Kakak dan Abang menunduk. Lalu perlahan-lahan melihat kearah Ayah. Gawat. Entah hukuman apa yang akan Ayah berikan. Dua. Lumayan mahal pula harganya. Untungnya peristiwa itu terjadi di lorong yang sepi. Jadinya tidak ada orang lain yang tahu selain kami. Kesempatan yang paling ideal untuk menyembunyikan pecahan-pecahannya dibalik rak. Pasti nggak akan ketahuan.

Adik Z menatap wajah Ayah. Sepertinya sedang menantikan tindakan apa yang akan Ayah lakukan. Soalnya, dalam kondisi terjepit seperti itu kan orang bisa melakukan apa saja. Tapi mesti diputuskan sesegera mungkin. Jika tidak, nanti ketahuan petugas supermarket. Dan jika sudah ketahuan, maka pilihannya hanya sedikit.

Ayah mematung. Mamandang ceceren yang ada dilantai itu. Berdiri kaku seperti manekin yang sedang dipajang. Kakak menahan nafas. Abang menampakkan wajah gelisah. Lalu… Ayah berkata; “Kakak, tolong panggilkan petugas toko ya…..”

Untuk sejenak Kakak bengong saja. Mungkin nggak mengira jika ternyata Ayah tidak marah. “Ayo Kak, kita panggil petugas tokonya,” demikian Abang berkata. Lalu mereka pun berlari lagi mencari penjaga toko.

Ketika mereka kembali bersama petugas itu, Ayah masih berdiam diri disana. Sekarang, Mama pun sudah kembali dari menelusuri lorong-lorong kosmetik. “Ya Pak, ada yang bisa kami ban…..” pertanyaan petugas toko itu terhenti begitu saja, tepat ketika dilihatnya serakan-serakan botol kaca bercampur makanan bercecerean dilantai. “Emh….” Katanya. Tidak jelas dia mau bicara apa.

“Kami yang menjatuhkannya Mbak,” kata Ayah. “Maaf.” Sambungnya.
“J-jadi…emh… gimana ya Pak?” katanya. Wajahnya terlihat penuh keraguan.  
“Nggak apa-apa Mbak. Saya mau minta tolong aja diambilkan sapu.” Jawab Ayah. “Tolong diwadahin di plastik ya Mbak. Kami akan membawanya ke kasir……..”

Adik Z langsung tersenyum mendengar pernyataan Ayah. Sepertinya, Adik Z memberi nilai sempurna kepada Ayah yang sudah lulus ujian itu.

“Kita membayarnya Yah?” Tanya Abang.
“Oh, iyya dong. Kita yang merusaknya. Jadi kita mesti membayarnya….” Ayah menjawab dengan mantap.

Kakak dan Abang kembali mematung. “Maaf ya Ayah….” Begitu kata Kakak. “Maaf ya Ayah…” Abang pun tidak mau ketinggalan.

Iyyaaaa. Ayah maafin. Lagian Ayah juga tahu kok. Kalian tidak sengaja.” Oooh, legaaa sekali mendengarnya. “Tapi…...” Wah, ada tapinya. “Sekarang coba kamu lihat deh.” Tambah Ayah. “Akibat kecerobohan kita, apa yang terjadi?”

Kakak dan Abang diam saja.
Ayah mengucek-ngucek rambut mereka. “Lain kali, Ayah minta tolong ya, kalian kalau main mesti berhati-hati. Oke?” Kakak dan Abang langsung bilang oke juga.

“Sekarang kita ke kasir,” Ayah berkata lagi. “Kalian bawa plastik ini, lalu kita bayar.” Kami pun langsung menuju lorong pembayaran. Ketika sampai disana, Kakak langsung menyerahkan bungkusan berisi serpihan-serpihan itu kepada kasir.

“Ini pecah ya Pak?” demikian kasir itu berkata.
“Iyya Mbak, nggak apa-apa. Kami memang harus menggantinya.” Begitu Ayah menjawab.

Kakak dan Abang terdiam. Tapi wajah mereka sekarang nggak takut lagi. Soalnya Ayah nggak marah. Dan Ayah, sudah ngasih tahu mereka bahwa kita mesti berani mempertanggungjawabkan apa pun yang kita lakukan. Kita nggak boleh lari dari tanggungjawab itu. Sekalipun nggak ada orang yang melihat. Tapi kata Ayah, mana bisa kita bersembunyi dari pengawasan Tuhan?

Memang sih, kadang-kadang menyakitkan juga. Rugi banget rasanya. Setidaknya, hari itu kami gagal membawa pulang sesuatu yang baru ke rumah. Tapi, kami berharap agar kejadian itu bisa menjadi bekal yang baik buat akhlak kami kelak kalau sudah dewasa. Bahwa memang seharusnya kami berani bertanggungjawab.
  

Berani Mencoba


Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil. (Mario Teguh)
Masih ingatkah ketika kita berlatih naik sepeda? Awalnya mungkin di roda belakang sepeda ditambahkan 2 roda kecil sebagai penyeimbang, setelah itu dicobalah dengan melepaskannya,
kemudian belajar meluncur tanpa roda penyeimbang. Begitu jatuh, kita coba lagi. Demikian seterusnya, hingga akhirnya kita bisa menjaga keseimbangan dan naik sepeda roda dua.

Coba bayangkan, apabila kita tidak pernah mencoba untuk meluncur tanpa bantuanroda penyeimbang, maka selamanya kita tidak akan bisa naik sepeda.
Jatuh ketika berlatih, membuat kita menjadi tahu, bahwa ada yang salah ketika kita melakukannya. Bisa jadi ketika badan mulai miring ke kanan, kita tidak berusaha mengimbangi berat badan ke kiri, ataupun kita tidak segera menjejakkan kaki tanah, guna menahan tubuh agar tidak jatuh. Dari situlah kita tahu, bagaimana cara mengatur keseimbangan.

Perhatikanlah, apakah orang-orang di sekitar kita mentertawakan kita ketika kita jatuh dari sepeda, ataukah memberitahukan dan berteriak-teriak menyemangati agar kita menjaga keseimbangan? Tentunya yang kedualah yang paling sering terjadi. Orang-orang tahu, bahwa kita masih berlatih dan sedang mencoba, sehingga mereka mendukung dengan positif. Lain halnya apabila kita tidak pernah mencoba dan berlatih, yang ada adalah ketidakmampuan, dan akhirnya cemoohanlah yang kita terima.

nilai diri

Pic. source: arborinvestmentplanner.com

“Kita menilai diri kita dari apa yang kita pikir bisa kita lakukan, padahal orang lain menilai kita dari apa yang sudah kita lakukan. Untuk itu apabila Anda berpikir bisa, segera lakukan.” ( Mario Teguh)

Sering dalam perjalanan hidup kita, dalam pergaulan sehari-hari, kita bertemu dengan orang-orang yang terdengar “besar mulut”, yang mengatakan bisa melakukan ini itu, tapi tidak pernah dibuktikannya. Akhirnya, bila kita bertemu lagi dengannya, kita cenderung menghindarinya, daripada menghabiskan waktu mendengarkan seluruh bualannya. Belum lagi kecipratan air liurnya, hiiiii....

Di sisi lain, kita sering takjub, melihat hasil atas apa yang telah dilakukan oleh orang-orang yang telah sukses. Bahkan, ketika saya mengetik artikel ini, saya tak pernah berhenti untuk takjub memperhatikan betapa canggihnya fasilitas office yang dikeluarkan oleh Microsoft ini, dibandingkan dulu ketika saya masih mengetik dengan mesin ketik manual, kemudian beranjak dengan mengetik menggunakan program WS, (hihihi..yang belum tahu program ini, silakan tanya bapaknya ya...). Mo ngetik aja, kudu masukin disket dos-nya ke komputer, setelah itu nyari disket WS-nya, ngetiknya pun kudu inget beberapa perintah, gimana mo ngetik huruf tebal, berapa marginnya, gimana ngeprintnya, dll, wuiiih..ribet deh pokoknya...

Sekarang kita bisa ngliat apa yang akan ditampilkan pada hasil cetakan, sesuai dengan tampilan di monitor. Dulu pakai istilahnya WYSIWYG, What You See Is What You Get.... Nah, coba bayangin, otak di belakang program-program itu, seberapa encer yach??? Keren kan..
Asyik kan kalo denger ada yang bilangin kita keren? Rasa takjub terhadap kita yang diberikan orang lain, membuat kita lebih percaya diri, bener kan? Coba kalau hal-hal bohong yang kita sampaikan, dan ketahuan...ups, betapa malunya kita, mo ditaruh di mana baju kotor ini? Eh, maksudnya, mo ditaruh di mana muka ini? Emang muka bisa dipindah?

So, kalau kita punya ide bagus, dan bisa segera diwujudkan, segeralah wujudkan, gak usah kelamaan nunggu wangsit ataupun buka-buka buku primbon ngitungin hari baik, biar kita segera bisa dapet penilaian positif dari yang laennya... Oke?

jangan mengeluh

Alkisah, ada seorang bangsawan kaya raya yang tinggal di sebuah daerah padang rumput yang luas. Suatu hari, karena ternak yang dipunyainya semakin banyak, sang bangsawan memilih 2 orang anak muda dari keluarga yang miskin untuk dipekerjakan. Yang berbadan tinggi dan tegap dipekerjakan sebagai pengurus kuda. Sedangkan yang berbadan kurus dan lebih kecil dipekerjakan sebagai pengurus ternak kambingnya.


Setelah beberapa saat, si badan tegap dengan arogan berkata kepada si badan kecil:
 "Hai sobat. Aku lebih besar badannya dari badanmu. Aku juga lebih tua darimu. Mulai besok, kita bertukar tempat. Aku memilih untuk mengurus kambing. Dan kamu menggantikan aku mengurus kuda. Awas kalau tidak mau! Dan awas ya, jangan laporkan masalah ini ke tuan kita! Kalau kamu berani lapor atau menolak, tahu sendiri akibatnya! Aku habisi badan kecilmu itu!"
Sore hari, dengan muka murung dan langkah gontai dia pulang ke rumah. Sesampai di rumah, melihat muka murung dan kegalauan anaknya, si ibu bertanya: "Nak, ada apa? Ada masalah apa? Coba ceritakan ke ibu".
Dengan kasih sayang dan kelembutan, mereka berbincang saat makan malam.
Si anak pun menceritakan peristiwa yang tadi terjadi. Dengan bersungut-sungut si anak melanjutkan: "Sungguh tidak adil kan, Bu. Dia mengancam dan memaksa aku untuk mengurus kuda-kuda liar. Dia yang berbadan besar memilih mengurus kambing. Badanku kecil begini, bagaimana aku bisa mengejar-ngejar kuda yang begitu besar. Aduuuh Bu...sungguh jelek nasibku."


Sambil menunduk lesu dia menghabiskan santap malamnya.
Si ibu dengan senyum bijak berkata, "Nak. Semua masalah pasti ada hikmahnya. Syukuri, hadapi, dan terima dengan besar hati. Tidak usah memusuhi dan membenci temanmu itu. Ibu percaya, semua kesulitan yang akan kamu hadapi, jika kamu mampu belajar dan kerja keras, pasti akan membuatmu menjadi kuat dan bermanfaat untuk masa depanmu."


Sejak saat itu, si anak kurus itu dengan susah payah setiap hari bergelut dengan pekerjaan mengurus kuda-kuda yang bertubuh tegap, besar, dan masih liar. Dia harus jatuh bangun mengejar mereka, kadang terkena tendangan, bahkan pernah terinjak hingga terluka parah. Dari hari ke hari keahlian dan kemampuannya menguasai kuda-kuda pun semakin membaik. Tidak terasa, tubuhnya pun berkembang menjadi tinggi, tegap dan perkasa.


Hingga suatu hari, terjadi pecah perang antarnegara. Kerajaan membutuhkan prajurit pasukan berkuda. Dan si pemuda pun terpilih sebagai pemimpin pasukan berkuda karena kepiawaiannya mengendalikan kuda-kuda.


Di kemudian hari, si pemuda berhasil memimpin dan memenangkan perang yang dipercayakan kepadanya dan dikenal banyak orang karena kebesaran namanya. Dia adalah pemimpin bangsa mongol yang tersohor, bernama: Genghis Khan


Sahabat yang berbahagia,
Dalam putaran kehidupan sering kali kita dihadapkan pada keadaan yang sepertinya membuat kita dirugikan, menderita, dan kita pun tidak berdaya kecuali harus menerimanya. Kalau kita larut dalam kekecewaan, marah, emosi, pasti kita sendiri yang akan bertambah menderita.


Lebih baik kita anggap ketidaknyamanan sebagai latihan mental dan kesabaran. Mari berjiwa besar dengan tetap melakukan aktivitas yang positif, sehingga sampai suatu nanti pasti perubahan lebih baik, lebih luar biasa akan kita nikmati!

hikmah dari kehilangan


Pada suatu masa, di sebuah pedesaan China, hidup seorang pria tua dan keluarganya. Pria tersebut mengolah sebuah kebun dan memiliki beberapa hewan peliharaan, salah satu peliharaannya adalah seekor kuda jantan. Suatu ketika, kuda yang dimiliki pria tua tersebut hilang. Beberapa tetangga mengatakan sempat melihat kuda tersebut berlari melewati batas daerah yang tidak boleh dilewati oleh warga desa. Pria tua itu menjadi sedih, tetapi dia mengatakan, "Tidak apa, barangkali kejadian ini bukan sesuatu yang buruk dan siapa tahu akan datang sesuatu yang baik."

Setelah hari berganti hari, pada malam hari, pria tua itu dikejutkan dengan suara kuda. Dia langsung bangkit dan melihat ke arah luar rumah, tampak kudanya yang hilang telah kembali dan membawa seekor kuda betina entah milik siapa yang menjadi pasangannya. Tentu saja, seperti peraturan di desa itu, kuda yang tidak diketahui pemiliknya atau liar akan menjadi milik mereka yang menemukan. Para tetangga memberi selamat pada pria tua yang telah mendapatkan kembali kudanya serta tambahan satu kuda secara cuma-cuma.


kisah-kisah inspirasi terbaik
Setelah waktu berjalan, anak laki-laki dari pria tua tersebut mulai berlatih untuk naik ke atas punggung kuda dan memacu kuda tersebut di sekitar area perkebunan. Sayangnya, pada suatu hari, anak laki-laki itu jatuh dari atas punggung kuda dan mengalami cedera kaki yang sangat parah. Perlu waktu lama untuk sembuh, tetapi sekalipun telah sembuh, anak laki-laki itu tidak bisa berjalan normal. "Tidak apa-apa, nak" ujar si pria tua, "Mungkin hal ini akan mendatangkan sesuatu yang lebih baik untuk mu,"

Dan seperti kejadian sebelumnya, si pria tua merasakan kembali sesuatu yang baik tersebut. Pada masa itu adalah masa perang, semua anak laki-laki di desa wajib memanggul senjata dan bertempur di medan perang. Tetapi karena cacat, anak laki-laki sang pria tua tetap di desa dan bekerja mengolah kebun. Tidak ada yang disesali, karena anak laki-laki itu juga bersikap sama seperti ayahnya, dia percaya akan ada hikmah di balik kejadian buruk yang menyebabkan dia kehilangan cara berjalan yang normal.

Tahun berganti tahun. Perang telah berakhir dan para anak laki-laki yang bertempur kembali ke desa. Ternyata hanya beberapa yang kembali, karena kebanyakan dari mereka ternyata tewas di medan perang. Sang pria tua sedikit bersyukur karena anak laki-lakinya tetap dalam kondisi sehat dan semakin pintar mengurus perkebunan. Sehingga, tidak ada yang perlu disesali karena bagi keluarga tersebut, kebahagiaan tidak hanya dinilai pada saat sesuatu terjadi, tetapi juga pada masa-masa setelahnya.

Sahabat, hikmah dari cerita tersebut kita harus belajar bahwa setiap kali kita merasa kehilangan, sesungguhnya apa yang kita tangisi tidak benar-benar hilang, karena pada saat yang tidak akan kita sangka, kita akan mendapatkan hikmah dari rasa kehilangan tersebut. Kita akan merasakan kebahagiaan lebih berlipat jika kita pernah merasakan kehilangan. Tetapi rasa bahagia itu akan datang saat kita bisa melepaskan dengan rela apa yang telah hilang, tidak dengan meratapi atau menangisi terus-mener

Belajar pada Ahli Permata

Seorang anak muda mengunjungi seorang ahli permata dan menyatakan maksudnya untuk berguru. Ahli permata itu menolak pada mulanya, karena dia kuatir anak muda itu tidak memiliki kesabaran yang cukup untuk belajar. Anak muda itu memohon dan memohon sehingga akhirnya ahli permata itu menyetujui permintaannya. “Datanglah ke sini besok pagi.” katanya.

Keesokan harinya, ahli permata itu meletakkan sebuah batu berlian di atas tangan si anak muda dan memerintahkan untuk menggenggamnya. Ahli permata itu meneruskan pekerjaannya dan meninggalkan anak muda itu sendirian sampai sore.

Hari berikutnya, ahli permata itu kembali menyuruh anak muda itu menggenggam batu yang sama dan tidak mengatakan apa pun yang lain sampai sore harinya. Demikian juga pada hari ketiga, keempat, dan kelima.

Pada hari keenam, anak muda itu tidak tahan lagi dan bertanya, “Guru, kapan saya akan diajarkan sesuatu?”

Gurunya berhenti sejenak dan menjawab, “Akan tiba saatnya nanti,” dan kembali meneruskan pekerjaannya.

Beberapa hari kemudian, anak muda itu mulai merasa frustrasi. Ahli permata itu memanggilnya dan meletakkan sebuah batu ke tangan pemuda itu. Anak muda frustrasi itu sebenarnya sudah hendak menumpahkan semua kekesalannya, tetapi ketika batu itu diletakkan di atas tangannya, anak muda itu langsung berkata, “Ini bukan batu yang sama!”

“Lihatlah, kamu sudah belajar,” kata gurunya.

belejar syukur dari penjual tape

Saya pernah punya sahabat di Yogyakarta, seorang kakek tua penjual tape singkong keliling dengan sepeda kayuh.

Hampir setiap hari ia lewat di depan rumah kontrakan saya ketika masih hidup mengontrak di Kota Jogja sekitar tahun 2002 – 2005. Bahkan kakek tua ini sering berhenti berlama-lama di depan rumah kontrakan, sampai saya keluar dan membeli tapenya.

Saking seringnya bertemu, akhirnya kami menjadi sahabat. Pantasnya ia menjadi bapak saya, melihat usianya. Sampai saya sering mengunjungi rumahnya yang sangat sederhana di daerah Sleman.

Menilik kondisi rumahnya, penampilan dan usahanya, tampak kalau ia hidup dalam berbagai bentuk kesulitan. Rumahnya berdinding anyaman bambu, dengan genting kuno yang kecil ukurannya, serta lantai dari tanah tanpa ada tembok semen sama sekali.

Jika musim hujan, selalu tiris, air masuk ke dalam rumahnya, dan membuat lantai rumahnya ditumbuhi rumput karena kerap tersiram air hujan.

Di rumahnya tidak ada motor. Hanya ada satu sepeda kayuh yang ia gunakan untuk jualan tape keliling Kota Jogja.

Yang sangat mengagumkan bagi saya, ia lebih sering bercerita tentang kebahagiaan hidupnya sebagai penjual tape. Bukan bercerita tentang kegetiran hidup yang dialami.

Mungkin karena kegetiran itu sudah dirasakan setiap hari, maka menjadi tidak berasa lagi baginya. Yang lebih ia rasakan adalah kegembiraan, maka itu yang selalu diceritakan.

Ia selalu antusias menceritakan kegembiraan yang dirasakan ketika ada “orang-orang penting” membeli tape singkongnya, bahkan selalu mengulang cerita tentang seorang dokter yang berlangganan membeli tapenya.

Contoh kegembiraanya seperti ini.

“Yang membeli tape saya itu orangnya bermobil. Mobil mereka bagus-bagus”, cerita sang kakek dengan wajah berbinar-binar saking bahagianya.

Saya bayangkan, mereka yang punya mobil belum tentu sebahagia kakek itu. Namun kakek yang tidak punya mobil, justru merasakan kebahagiaan yang tidak didapatkan oleh para pemilik mobil.

Begitulah cara ia menikmati hidup. Barangkali ia ingin berpesan, hidup itu terlalu indah untuk dikesali. Nikmati saja semua problematika dalam kehidupan, agar kita selalu bahagia walau penuh dengan keterbatasan.