https://www.effectivegatecpm.com/xacwkdnx?key=f75342ac69385ea840bad56bf7fe064d

Wednesday, April 1, 2015

10 Kualitas Pribadi yang Disukai

1. Ketulusan
Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura- pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya “Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak”. Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.


2. Kerendahan Hati
Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendahhatian justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa
bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder. 


3. Kesetiaan
Kesetiaan sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.


4. Positive Thinking
Orang yang bersikap positif (positive thinking) selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dan sebagainya.


5. Keceriaan
Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.


6. Bertanggung jawab
Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.


7. Percaya Diri
Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.


8. Kebesaran Jiwa
Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa- masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.


9. Easy Going
Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada di luar kontrolnya.


10. Empati
Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

Kunci Tenteram Hati Saat Bekerja

Lah, mana bisa tenteram hati kalau kerja di kota besar seperti Jakarta. Justru orang bilang kalau kerja di Jakarta itu seteresss. Dijalanan macet. Dikantor sikt-sikutan. Pelanggan juga banyak maunya. Emangnya di kota lain selain Jakarta situasinya lebih baik gitu? Soal jarak tempuh kekantor lebih singkat sih iyya. Tapi soal lainnya, apakah lebih bisa membuat hati kita tenteram? Nggak juga. Kalau dipikir-pikir sih, yaa plus-minus ajalah. Ada kurangnya, dan ada pula lebihnya. Artinya, bobot tantangannya kira-kira sebandinglah. Terus bagaimana dong caranya untuk bisa tenteram hati?

Kalau jabatan tinggi, baru bisa tenteram. Begitu kata orang. Kalau gaji tinggi. Kalau sudah jadi boss. Kalau kerja diperusahaan besar. Dan kalau-kalau
lainnya. Apa iyya begitu ya? Mungkin sih. Tetapi, mari perhatikan para pekerja yang sudah memenuhi kriteria-kriteria diatas. Apakah kita melihat mereka berhasil mendapatkan ketenteraman hati? Kita malah sering melihat direktur yang makin kusut wajahnya. Kita juga sering melihat orang bergaji gede merengut setiap kali tagihan kartu kredit datang kepadanya. Dan jangan salah loh. Yang suka ngemplang hutang ke bank kan bukan orang-orang kere. Jelas dong, kalau semua kriteria diatas bukan jaminan untuk meraih ketenteraman hati dalam pekerjaan. Makanya, daripada terbelenggu oleh pandangan keliru begitu mendingan Anda temani saya untuk belajar memahami dan menerapkan 5 prinsip NatIn (Natural Intelligence) berikut ini:

  1. Tulus ikhlas dalam menjalani pekerjaan ini. Sikap tulus ikhlas itu berkaitan dengan perasaan hati. Jika kita tulus, maka kita tidak akan pernah kecewa ketika berhadapan dengan situasi yang bertolak belakang dengan yang kita harapkan. Jika kita ikhlas, maka kita tidak akan mempermasalahkan respon pihak lain yang tidak sesuai dengan yang semestinya. Coba saja Anda perhatikan, bukankah hati kita merasa tenteram ketika tulus dalam melakukan sesuatu untuk orang lain? Jiwa kita tenang ketika ikhlas menerima keadaan? Maka jika ingin tenteram, tulus ikhlas merupakan prasyarat utamanya. Tuluslah. Dan ikhlaslah. Kita pun tenteram.
  2. Membaktikan diri kepada pekerjaan ini. Banyak orang yang keberadaannya dikantor tidak dihargai karena kinerjanya buruk. Jangan tanya berapa banyak manager diomeli oleh direktur. Atau direktur yang gemetaran ketika harus mempresentasikan kinerja perusahaan dihadapan para stake holder. Saya juga melihat cukup banyak orang yang bisa berdiri tegap dihadapan siapa saja. Karena, kinerjanya selalu bagus. Tentu kinerja bagus itu tidak didapat secara gratis. Melainkan melalui kesediaan untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Dan itu, hanya bisa dilakukan jika kita bersedia membaktikan diri pada pekerjaan ini. Kerja suka-suka mungkin tidak menguras tenaga. Tetapi, cara kerja begitu hanya menempatkan kita pada posisi yang tidak dianggap. Berdedikasi tinggi, mungkin melelahkan. Tapi itu memungkinkan kita meraih tempat terhormat. Hanya ketika tetap memiliki kehormatan itu jiwa kita tenteram, bukan?  
  3. Memberikan manfaat kepada teman sekerja. Memberi, memang itu kata kuncinya. Kesannya akan mengurangi apa yang kita miliki ya? Padahal tidak sama sekali. Soalnya, bukan uang yang Anda berikan. Melainkan manfaat. Jadi, bentuk pemberiannya bisa bermacam-macam kan. Misalnya, bantuan kecil untuk teman Anda. Atau, sekedar uluran tangan ketika seseorang sedang pusing dengan pekerjaannya. Atau, meringankan sedikit beban di pundak atasan Anda dengan bertanya; apa yang bisa saya bantu untuk mengerjakannya Pak? Nggak rugi Anda jika memberi manfaat kepada orang lain. Kenapa? Karena mereka yang merasakan manfaat keberadaan Anda akan menyukai Anda. Mencintai Anda. Dan menjaga Anda agar senantiasa berada bersama mereka. Bukankah senang hati Anda jika keberadaan Anda ‘diakui’ oleh lingkungan kerja? Makanya, banyak-banyaklah memberi manfaat kepada teman, kolega, atau atasan Anda.
  4. Mencukupkan apa yang kita dapatkan. Salah satu hal yang membuat hati kita gundah adalah ‘perasaan kurang’. Bukan ‘kurang’ ya, tapi ‘perasaan kurang’. Kenapa saya tegaskan ini? Karena, begitu banyak orang yang sudah punya banyak kelebihan dibandingkan dengan orang lain namun masih juga mengatakan kurang. Dan, banyak juga orang yang nilai kepemilikannya lebih sedikit dari orang lain namun dengan mantap mengatakan bahwa dirinya cukup. “Ya Alhamdulillah,” katanya dengan wajah cerah. Dan itu benar. Pendapatan kita, sebesar apapun tidak akan pernah cukup jika kita tidak mencukupkannya. Dan betapapun kecilnya pendapatan kita, akan bisa memenuhi kebutuhan kita jika kita mencukupkannya. Tengok saja orang yang selalu merasa kurang itu. Mengeluuuuh saja kerjanya. Padahal mereka sudah mendapat lebih banyak dari orang lain. Wajar juga sih. Karena hanya mereka yang bisa mencukupkan apa yang didapatkannya saja yang bisa memiliki jiwa yang tenang.
  5. Menjaga kejujuran dalam pekerjaan. Misalnya saja – misalnya nih ya – Anda melakukan tindakan tidak jujur atau melanggar integritas. Anda melakukannya secara terbuka atau sembunyi-sembunyi? Terbuka ya? Nggak mungkin. Anda pasti menyembunyikannya. Kenapa disembunyikan? Karena kita tidak ingin orang lain tahu. Kenapa tidak ingin orang lain tahu? Karena kita sadar bahwa itu tidak sepatutnya kita lakukan. Lha, kalau nanti sampai orang lain tahu gimana ya? Itulah yang terjadi. Maka akhirnya hidup kita selalu diliputi oleh perasaan was-was. Sebaliknya. Jika selalu menjaga diri dari tindakan-tindakan buruk; apa yang kita khawatirkan ya kan? Nyantai aja. Orang lain ditangkepin juga ya kita tetap tenang dong. Ya iyyalah. Kita nggak berbuat salah. Kenapa mesti gundah. Justru kita akan selalu tenteram, jika terus menjaga nilai-nilai kejujuran.

Apa sih yang lebih penting bagi Anda selain perasaan tenteram didalam hati? Nggak ada saya yakin. Banyak duit juga kalau nggak tenteram mah belum tentu Anda betah kan? Semuanya serba pas-pasan juga oke saja sih kalau jiwa kita tenteram. Karena hanya dengan jiwa tenteram itulah kita bisa menikmati hidup. Bukan hanya hidup didunia. Karena bagi orang-orang yang tenteram, ada jaminan bahwa diakhirat kelak mereka akan mendapatkan tempat terbaik. Sesuai dengan janji Ilahi dalam surah 89 (Al-Fajr) ayat 27-30 ini; “Wahai jiwa yang tenang,” Demikian Allah menyeru. “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rido dan diridoi. Maka masuklah engkau kedalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah engkau kedalam surga-Ku….” Bismillah deh. Untuk menerapkan ke-5 prinsip itu.

5 S : Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun

Suatu saat, adzan Maghrib tiba. Kami bersegera shalat di sebuah mesjid yang dikenal dengan tempat mangkalnya aktivis Islam yang mempunyai kesungguhan dalam beribadah. Di sana tampak beberapa pemuda yang berpakaian "khas Islam" sedang menantikan waktu shalat. Kemudian, adzan berkumandang dan qamat pun segera diperdengarkan sesudah shalat sunat. Hal yang menarik adalah begitu sungguh-sungguhnya keinginan imam muda untuk merapikan shaf. Tanda hitam di dahinya, bekas tanda sujud, membuat kami segan. Namun, tatkala upaya merapikan shaf dikatakan dengan kata-kata yang agak ketus tanpa senyuman, "Shaf, shaf, rapikan shafnya!", suasana shalat tiba-tiba menjadi tegang karena suara lantang dan keras itu. Karuan saja, pada waktu shalat menjadi sulit khusyu, betapa pun bacan sang imam begitu bagus karena terbayang teguran yang keras tadi.

Seusai shalat, beberapa jemaah shalat tadi tidak kuasa menahan lisan untuk saling bertukar ketegangan yang akhirnya disimpulkan, mereka enggan untuk shalat di tempat itu lagi. Pada saat yang lain, sewaktu kami berjalan-jalan di Perth, sebuah negara bagian di Australia, tibalah kami di sebuah taman. Sungguh mengherankan, karena hampir setiap hari berjumpa dengan penduduk asli, mereka tersenyum dengan sangat ramah dan menyapa "Good Morning!" atau sapa dengan tradisinya. Yang semuanya itu dilakukan dengan wajah cerah dan kesopanan. Kami berupaya menjawab sebisanya untuk menutupi kekagetan dan kekaguman. Ini negara yang sering kita sebut negara kaum kafir.

Dua keadaan ini disampaikan tidak untuk meremehkan siapapun tetapi untuk mengevaluasi kita, ternyata luasnya ilmu, kekuatan ibadah, tingginya kedudukan, tidak ada artinya jikalau kita kehilangan perilaku standar yang dicontohkan Rasulullah SAW, sehingga mudah sekali merontokan kewibawaan dakwah itu sendiri.

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan dengan berinteraksi dengan sesama ini, bagaimana kalau kita menyebutnya dengan 5 (lima) S : Senyum, salam, sapa, sopan, dan santun.

S yang pertama adalah senyum. Kita harus meneliti relung hati kita jikalau kita tersenyum dengan wajah jernih kita rasanya ikut terimbas bahagia. Kata-kata yang disampaikan dengan senyuman yang tulus, rasanya lebih enak didengar daripada dengan wajah bengis dan ketus. Senyuman menambah manisnya wajah walaupun berkulit sangat gelap dan tua keriput. Yang menjadi pertanyaan, apakah kita termasuk orang yang senang tersenyum untuk orang lain? Mengapa kita berat untuk tersenyum, bahkan dengan orang yang terdekat sekalipun. Padahal Rasulullah yang mulia tidaklah berjumpa dengan orang lain kecuali dalam keadaan wajah yang jernih dan senyum yang tulus. Mengapa kita begitu enggan tersenyum? Kepada orang tua, guru, dan orang-orang yang berada di sekitar kita?

S yang kedua adalah salam. Ketika orang mengucapkan salam kepada kita dengan keikhlasan, rasanya suasana menjadi cair, tiba-tiba kita merasa bersaudara. Kita dengan terburu-buru ingin menjawabnya, di situ ada nuansa tersendiri. Pertanyaannya, mengapa kita begitu enggan untuk lebih dulu mengucapkan salam? Padahal tidak ada resiko apapun. Kita tahu di zaman Rasulullah ada seorang sahabat yang pergi ke pasar, khusus untuk menebarkan salam. Negara kita mayoritas umat Islam, tetapi mengapa kita untuk mendahului mengucapkan salam begitu enggan? Adakah yang salah dalam diri kita?

S ketiga adalah sapa. Mari kita teliti diri kita kalau kita disapa dengan ramah oleh orang lain rasanya suasana jadi akrab dan hangat. Tetapi kalau kita lihat di mesjid, meski duduk seorang jamaah di sebelah kita, toh nyaris kita jarang menyapanya, padahal sama-sama muslim, sama-sama shalat, satu shaf, bahkan berdampingan. Mengapa kita enggan menyapa? Mengapa harus ketus dan keras? Tidakkah kita bisa menyapa getaran kemuliaan yang hadir bersamaan dengan sapaan kita?

S keempat, sopan. Kita selalu terpana dengan orang yang sopan ketika duduk, ketika lewat di depan orang tua. Kita pun menghormatinya. Pertanyaannya, apakah kita termasuk orang yang sopan ketika duduk, berbicara, dan berinteraksi dengan orang-orang yang lebih tua? Sering kita tidak mengukur tingkat kesopanan kita, bahkan kita sering mengorbankannya hanya karena pegal kaki, dengan bersolonjor misalnya. Lalu, kita relakan orang yang di depan kita teremehkan. Patut kiranya kita bertanya pada diri kita, apakah kita orang yang memiliki etika kesopanan atau tidak.

S kelima, santun. Kita pun berdecak kagum melihat orang yang mendahulukan kepentingan orang lain di angkutan umum, di jalanan, atau sedang dalam antrean, demi kebaikan orang lain. Memang orang mengalah memberikan haknya untuk kepentingan orang lain, untuk kebaikan. Ini adalah sebuah pesan tersendiri. Pertanyaannya adalah, sampai sejauh mana kesantunan yang kita miliki? Sejauh mana hak kita telah dinikmati oleh orang lain dan untuk itu kita turut berbahagia? Sejauh mana kelapangdadaan diri kita, sifat pemaaf ataupun kesungguhan kita untuk membalas kebaikan orang yang kurang baik?

Saudara-saudaraku, Islam sudah banyak disampaikan oleh aneka teori dan dalil. Begitu agung dan indah. Yang dibutuhkan sekarang adalah, mana pribadi-pribadi yang indah dan agung itu? Yuk, kita jadikan diri kita sebagai bukti keindahan Islam, walau secara sederhana. Amboi, alangkah indahnya wajah yang jernih, ceria, senyum yang tulus dan ikhlas, membahagiakan siapapun. Betapa nyamannya suasana saat salam hangat ditebar, saling mendo'akan, menyapa dengan ramah, lembut, dan penuh perhatian. Alangkah agungnya pribadi kita, jika penampilan kita selalu sopan dengan siapapun dan dalam kondisi bagaimana pun. Betapa nikmatnya dipandang, jika pribadi kita santun, mau mendahulukan orang lain, rela mengalah dan memberikan haknya, lapang dada,, pemaaf yang tulus, dan ingin membalas keburukan dengan kebaikan serta kemuliaan.

Saudaraku, Insya Allah. Andai diri kita sudah berjuang untuk berperilaku lima S ini, semoga kita termasuk dalam golongan mujahidin dan mujahidah yang akan mengobarkan kemuliaan Islam sebagaimana dicita-citakan Rasulullah SAW, Innama buitsu liutammima makarimal akhlak, "Sesungguhnya aku diutus ke bumi ini untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.

Tidak Perlu Berjanji Jika tidak Bisa Ditepati

Setiap kita tentu tak luput dari janji dan hutang dalam kehidupan keseharian. Berapa banyak janji yang sudah kita berikan kepada orang lain ? Siapapun ia, apapun profesi pekerjaannya, apapun status hubungannya dengan kita, dalam bentuk apakah yang kita janjikan, dan seterusnya.

Rasanya memang tidak aneh, disadari atau tidak hampir dikatakan kita memberikan janji-janji kepada orang lain dengan jutaan tujuan di balik manisnya janji, dilaksanakan tidak dilaksanakan, dipenuhi atau tidak dipenuhi, menepati atau mengingkarinya, mengingat atau melupakannya, begitu mewarnai kristal-kristal janji yang berkilau ketika ditepati dan meredupnya cahaya ketika diingkari.

Mungkin saja sebagian orang sangat meremehkan sebuah janji. Jika kita pahami dengan baik janji adalah utang yang harus kita bayar dan ditepati.

Bila menengok kehidupan komunikasi dan interaksi kita sehari-hari dengan berbagai macam orang dengan berbeda status, lingkungan, keadaan, profesi, dan sebagainya, bisa jadi kita banyak melihat diri dan orang lain menggunakan janji dengan dengan berbagai tujuan dari sekedar menyenangkan hati orang lain, perbaikan kinerja dan perilaku, bahkan sampai dengan berupaya menyelamatkan diri dari sesuatu yang mengancam jiwa.

Ada seorang karyawan yang telah berjanji untuk mengajak buah hatinya minggu ini berjalan-jalan ke luar kota atau sekedar ke pusat perbelanjaan sebagai balasan atas habis waktunya yang telah dipergunakan untuk kerja lembur dan seringnya bertugas ke luar kota. Ada Seorang ayah berjanji membelikan sebuah sepeda mini yang bagus atau hadiah yang diinginkan sebagai hadiah kenaikan kelas putranya esok hari. Atau seorang Ibu berjanji menemani putrinya untuk mengerjakan PR sekolahnya atau sekedar menyanyikan lagu pengantar tidur malam ini setelah pulang dari kantor. Ada seorang teman mengajak untuk partisipasi dalam berbagai proyek pekerjaan dan usaha, dan seterusnya.. .

Apa yang terjadi dan kita bayangkan, saat sang anak mengetahui janji-janji yang telah diterima dari ayah ibunya berkali-kali tidak ditepatinya, mungkin bagi sang ayah dan ibu, kejadian itu dianggap sepele dan dapat dilakukannya di lain waktu. Tapi bagi si anak, hatinya luka dan kecewa. Apa arti sebuah janji kalau tidak bisa dipercaya? Kalau lain kali ibunya berjanji seperti itu lagi, apakah anaknya masih bisa mempercayainya?

Bagaimana dengan istri atau suami ataupun pasangan kita, tentu saja kita pernah satu kali, dua kali, sepuluh kali, bahkan ratusan kali memberikan janji, entah berjanji merubah kebiasaan buruk kita, merubah perangai yang kurang layak, kembali kepada komitmen bersama, senantiasa menyadari dan menjaga sebuah keharmonisan yang tulus, atau sekedar selalu mengingat akan menjaga kesehatan diri dan ribuan janji-janji lainnya. Pertanyaannya : sudah seberapa banyak janji yang telah ditepati dan berapa banyak janji yang diingkari?

Lalu bagaimana kita berjanji dengan teman, sahabat atau bahkan kepada rekan kerja, atasan, perusahaan bahkan kepada pelanggan kita ? coba renungkan sejenak, apa saja janji yang telah kita ucapkan dan berikan, apa saja kata-kata manis yang akan kita realisasikan dan buktikan nanti kepada mereka, seberapa banyak dari mereka yang berterima kasih untuk janji yang telah kita tepati. Seberapa banyak dari mereka yang mengingatkan kita kembali akan janji yang telah kita sebarkan, seberapa banyak kecewa bahkan kecewa dari mereka atas pengingkaran yang telah kita lakukan.

Sebaliknya bisa jadi kita pun pernah mengalami mendapatkan pengingkaran janji dari orang lain entah pasangan hidup, orang-orang yang terdekat, rekan-rekan kerja di kantor, atasan atau pimpinan di kantor tempat kita berkarya, ataupun dari para pelanggan entah apapun bentuknya dari sekedar bertemu semata, materi, promosi jabatan, fasilitas, sampai dengan perubahan perilaku atau kebiasaan yang lebih baik. Mungkin saja membuat kita gundah, kecewa, sedih, marah, dan sebagainya.

Itulah realitas kehidupan yang kita alami dan hadapi. Janji memang kadang bahkan seringkali mudah terucap. Kita kadang mudah tergoda untuk mengucapkan janji pada orang lain bahkan dengan sumpah atas nama Tuhan untuk berupaya menyakinkan orang lain agar yakin atas janji yang kita berikan atau hanya sekedar untuk menunjukkan pada orang lain bahwa kita baik. Kemarin berjanji hari ini diingkari.

Janji tetaplah janji, janji adalah hutang yang harus ditepati dan dimintakan pertanggungjawabnya kelak. Tak perlulah kita mudah berjanji jika kita tidak begitu yakin ditepati dan hanya tuk mendapatkan decak kagum dan pujian orang lain, karena menepati janji yang pernah diucapkan jauh lebih penting dan berharga ketimbang Janji indah cuma pepesan kosong.

Pertanyaannya adalah apa yang kita pikirkan di saat kita telah berjanji kepada Sang Pencipta untuk menjadi manusia yang lebih berkualitas, menjadi manusia yang memiliki ber-akhlak terpuji, menjadi manusia yang selalu bersyukur dan menjalankan segala perintah dan menjauhi laranganNYA?

Meraih Rezeki Yang Mulia


Anda tahu nggak, berapa harga sekilo gula pasir sekarang? Atau seikat bayam. Kalau tiga butir tomat? Jika Anda tidak tahu, coba saja tanyakan kepada istri Anda di rumah. Atau, boleh juga bertanya kepada pembantu rumah tangga Anda yang setiap pagi bertemu dengan tukang sayur keliling. Ini bukan untuk membuat Anda pusing. Tetapi, setidaknya kita bisa menyadari apa yang saat ini tengah terjadi. Sebab bagaimana pun juga, orang yang sadar bisanya lebih waspada daripada mereka yang tidak menyadari apa yang terjadi disekelilingnya, bukan?

Pagi itu, saya sedang asyik didepan komputer. Ide-ide beterbangan mengitari kepala saya. Dan jemari tangan ini terus menari diantara toots-toots keyboard. Tiba-tiba terdengar istri saya berbicara dengan asisten rumah tangga kami di rumah. “Bu, harganya jadi 70 ribu…,” katanya.

“Emangnya apa saja yang dibeli Mbak?” balas istri saya.
“Sayur sama bumbu-bumbu, Bu….” Jawab si Mbak.
“Sekarang beli sayur dan bumbu saja sudah tujuh puluh ribu?” demikian terdengar suara istri saya lagi. “Baguuuuuuuussss…..” tambahnya.

Pas kata ‘bagus’ itu, saya seperti sedang mendengar sebuah nyanyian dari lagu melayu di tahun delapan puluhan. Mengalun merdu mendayu-dayu. Tapi seperti para suami lainnya dong; saya tidak mau terlampau ambil pusing dengan urusan harga sayuran.

“Coba kamu tanya Yono, ini harganya berapa aja…” terdengar lagi suara istri saya. “Ibu nggak akan nawar. Cuma pengen tahu aja harga masing-masingnya berapa.” Lanjutnya. Yono itu tukang sayur keliling langganan kami. Setelah terdengar suara ‘iya bu’ saya tidak mendengar apa-apa lagi.

Ketika ada kesempatan jeda, saya beranjak dari meja kerja. Sudah tidak ada pikiran apa-apa lagi soal harga sayur itu. Namun, maklum rumah kami ini ‘dekat kemana-mana’ gitu loh, sehingga akhirnya melintas juga ke dapur. Lalu secara reflex saya melirik kearah belanjaan si Mbak. Dan ketika melihat apa saja yang bisa dibeli dengan tujuh puluh ribu rupiah itu… saya jadi miris sendiri. ‘Gile, belanjaan seuprit begini menghabiskan uang sebanyak itu?’. Sungguh, itulah yang terbersit dibenak saya.

Alhamdulillah. Hingga hari ini, Allah membukakan pintu rejeki untuk kami agar bisa hidup dengan normal. Cukup saja untuk memenuhi kebutuhan hidup bergaya sederhana. Yaaa.. seperti masyarakat Indonesia pada umumnya lah. Alhamdulillah, pokoknya. Sekalipun begitu, tetap saja ada pertanyaan dalam hati; apakah sudah sedemikian tingginya biaya hidup kita dizaman ini? Bukan soal kebayar atau tidak sih. Tetapi, memikirkan betapa harga-harga bergembira ria dan berlompatan hingga berterbangan keangkasa raya begitu rasanya ada sesuatu yang tengah terjadi di dunia yang kita huni ini.

Kenyataannya, penghasilan kita rata-rata kan tidak bisa naik seperti terampilnya harga-harga itu menapaki tangga ke puncak julangnya kan? Hebat, jika pikiran Anda tidak terusik sama sekali. Itu tandanya pendapatan Anda sudah sangat tinggi sekali sehingga tidak terusik oleh berapapun harga daging sapi. Cabai merah. Garam. Sayur mayur. Dan bumbu-bumbu. Kalau Anda belum sampai ke level itu, mungkin Anda seperti saya. Kita memikirkan bagaimana caranya supaya bisa mendapatkan penghasilan yang lebih baik. You are not alone my friend. Kita tingkatkan ikhtiarnya lagi yah.

Iyya sih. Ikhitiar mah kita kan nggak pernah putus. Tapi, wajar juga dong kalau kadang bertanya juga;”Kenapa sih orang lain kok kayaknya gampang banget dapat ini dan itu? Rumahnya megah. Mobilnya juga mewah. Tampaknya uang mereka nggak berseri gitu deh?”

Wajar kok bertanya begitu. Tetapi, kita juga mesti realistis kan? Misalnya saja. Di zaman ini memang banyak orang yang hartanya melimpah ruah. Namun tengok itu di televisi. Baca di koran. Simak berita di media masa. Tidak semua orang yang tajir itu mendapatkan harta mereka dengan cara yang terpuji loh. Selama kita masih punya iman. Kita tentu tidak tertarik untuk menghalalkan segala cara, bukan?

Bukannya kita tidak tertarik untuk menjadi orang kaya. Saya ingin menjadi orang kaya. Sedang berusaha terus agar bisa mewujudkan cita-cita itu. Tetapi, saya ingin mendapatkan kekayaan itu dengan cara-cara yang Tuhan suka. Anda juga begitu kan sahabat? Nggak gampang banget deh. Itulah yang kita rasakan. Tetapi sahabat, hal-hal yang bernilai tinggi biasanya kan tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk mendapatkannya bukan?

Saya paham benar, bahwa memang ada jalan pintas untuk menuju kepada kekayaan. Ada cara gampang untuk memperoleh keberlimpahan. Di level pegawai yang menduduki posisi basah, kita sudah pada tahu rahasia umum yang biasa ditempuh sekelompok orang. Cepat bertambah pundi-pundinya. Tapi saya dan Anda, tentu tidak menginginkan yang seperti itu. Karena cara seperti itu, jelas sekali buruknya dihadapan Tuhan. Bahkan dihadapan sesama manusia juga sangat rendah.

Saya memilih berbisnis kecil-kecilan saja. Meski hasilnya tidak seukuran paus, tetapi masih cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Kenapa tidak berbisnis besar biar hasilnya besar? Saya bilang; belum. Mulai dari kecil juga tidak keberatan. Insya Allah kelak akan perlahan-lahan menjadi besar juga.

Jika Anda bisa berbisnis besar saya seneng sekali mendengarnya. Namun, jika Anda juga memulainya sama seperti saya, marilah sahabat; kita saling memberi semangat. Agar tetap gigih berjuang. Dan tetap istikomah dijalan yang baik. Setidaknya, minim dari perilaku dan praktek-praktek berbisnis yang tidak patut.  Mari mulai sekarang juga. Karena akan sangat berat jika dimulai pada usia kita yang sudah terlampau tua.

Melihat orang lain yang kaya raya, memang sering membuat hati kita tergoda untuk mengambil jalan pintas. Toh semuanya terpampang dihadapan kita. Tetapi sahabatku, contohlah perilaku mereka yang kaya raya melalui usaha yang baik. Dengan cara berusaha yang bermartabat. Mari menghindarkan diri dari mencontoh mereka yang kaya raya dari  menghalalkan segala cara.

Tidak usah terlampau silau dengan kekayaan orang lain yang melimpah ruah, sahabat. Karena dengan ikhtiar yang pantang menyerah pun, mungkin kita bisa mendapatkan keberlimpahan yang sama. Jika kita gigih memperjuangkannya. Namun, jangan lupa juga untuk terus berdoa. Agar Tuhan menunjukkan jalan yang disukaiNya. Sehingga kita bisa terhindar dari cara-cara nista.  Mengapa demikian sahabat? Karena untuk setiap harta yang kita miliki akan ada 2 jenis pertanyaan. “Pertama, bagaimana kamu mendapatkan harta itu? Dan kedua, bagaimana cara kamu membelanjakannya.”

Oleh karenanya sahabatku, mari terus berjuang untuk mendapatkan nafkah dengan cara yang baik. Dan mari kita gunakan apa yang sudah kita miliki ini untuk hal-hal yang juga baik. Agar mudah kita menjawab kedua pertanyaan itu. Sehingga kelak, kita mendapatkan hadiah seperti yang Tuhan janjikan dalam surah 8 (Al-Anfal) ayat 4: “ …Mereka akan mendapatkan derajat yang tinggi disisi Tuhannya. Dan ampunan. Serta rezeki yang mulia.” Maukah Anda meraih rezeki yang mulia seperti itu sahabatku? Saya, mau.

Tangga Yang Mana Yang Anda Panjat?


Secara harfiah, tangga adalah alat untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. Misalnya tangga rumah. Tangga bambu. Tangga tali. Tangga kayu. Dan sebagainya. Meskipun bahan dan bentuknya berbeda-beda, tetapi struktur dasar dan fungsinya sama, yaitu; memungkinkan seseorang untuk naik ke tingkatan yang lebih tinggi. Di kantor, urusan kenaikan karir pun berkaitan dengan tangga. Itulah sebabnya kenapa jenjang karir itu disebut sebagai career ladder alias tangga karir. Sangat sulit bagi Anda untuk naik keatap rumah, jika tidak menggunakan tangga bukan? Sangat sulit juga bagi Anda untuk sampai di puncak karir, tanpa adanya alat bantu berupa career ladder itu. Pertanyaannya adalah; apakah Anda sudah mempunyai tangga yang tepat untuk menapaki jenjang karir Anda?

Baru-baru ini saya ada meeting dengan klien untuk urusan training. Karena kebutuhan klien ini sangat spesifik, maka kami memandang perlu untuk duduk bersama membahas detailnya. Lokasi meetingnya di Cikarang. Mulai jam 2 siang, sampai jam 4 sore. Setelah selesai meeting itu, saya langsung melaju kembali kearah Jakarta. Anda yang sering melintasi jalan tol itu tentu paham jika sepanjang beton pembatas yang memisahkan kedua arus berlawanan di jalur toll itu sangat gersang sekali.  Hanya ada beberapa pohon perdu kecil yang tampaknya kurang terawat. Tidak terlalu jelas antara tumbuh ataukah merana.

Yaa seperti karir kitalah. Nggak begitu jelas. Kemana sih arah karir ini? Buat kebanyakan karyawan sih, karir kan tidak lebih dari sekedar sandaran untuk mendapatkan penghidupan. Cari makan, begitulah bahasa lugasnya. Nggak lebih dari itu. Pokoknya, bisa dapat sejumlah uang untuk menutupi kebutuhan hidup selama sebulan. Karena kantor swasta menganut prinsip ‘kerja dulu baru gajian’, maka kita biasa menunggu tanggal 25 untuk bisa menutupi kebutuhan selama sebulan itu. Makanya, begitu terima gaji tanggal 25 pagi, langsung ditransfer kesana-sini pada sore harinya. Setelah itu, ya mesti sabar sampai gajian lagi di tanggal 25 berikutnya. Begitulah kita menjalani rutinitas. Tanpa tahu, akan bagaimanakah masa depan karir ini.

Seperti pohon-pohon perdu di sepanjang jalan tol itu sih. Cuman bisa termangu disitu. Tanpa bisa bergerak kemana-mana. Sepanjang hari terhempas angin dari hembusan mobil-mobil yang pada ngebut. Terpapar terik matahari. Terkontaminasi polusi. Tanpa bisa beranjak pergi. Perhatikan saja; bukankah nasib kebanyakan karyawan sama merananya seperti itu? Sudah sepuluh tahun bekerja disitu-situ aja. Belasan tahun. Bahkan banyak yang sudah lebih dari seperempat abad. Mengerjakan tugas yang sama. Setiap hari, kembali berkutat dengan yang itu, dan itu lagi. Bias antara hepi dan keki. Campur aduk antara bahagia dan sengsara.  

“Kenapa karir gue tidak kunjung membaik?” Begitulah pertanyaan yang sering mengusiknya setiap kali merasa lelah atau jengah. “Karena gue jujur,” ada yang bilang begitu. Padahal, kejujuran justru menjadi faktor penunjang karir seseorang. “Karena gue bukan penjilat,” ada juga yang bilang demikian. Padahal, tidak semua orang yang sukses dalam karirnya diraih karena menjilat. “Karena gue nggak dekat dengan pengambil keputusan.” Dan ada seribu sembilan ratus tujuh puluh enam jawaban lainnya dalam benak kita. Intinya; karir kita tidak kunjung membaik karena tidak ada ‘tangga’ yang bisa membantu kita menapak ke jenjang yang lebih tinggi. Maka, jadilah kita seperti pohon perdu disepanjang jalan tol itu. Antara ada dan tiada, nggak jelas bedanya.

Jalanan agak macet, sehingga saya mempunyai kesempatan untuk melihat-lihat. Tepat di antara kilometer 14.00 dan 14.200, saya melihat sebuah pemandangan yang menarik. Di sela-sela beton pembatas itu ada semacam pohon merambat. Yang membuatnya menarik adalah; pohon itu tidak merambat di beton-beton itu. Melainkan naik hingga hampir menyentuh kabel listrik yang tingginya saya perkirakan sekitar 4 atau 5 meter diatasnya. Batin saya tertegun. Bagaimana pohon itu bisa merambat naik? Padahal, saya sama sekali tidak melihat ada alat bantu apapun yang memungkinkan sulur-sulur pohonnya naik. Kalau ada tiang listrik, atau bambu atau apalah yang bisa menyangganya kan wajar. Tapi ini? Sama sekali nggak ada alat bantu. Magic? Mungkin.

Di banyak kantor, saya sering melihat ‘orang-orang yang sangat biasa’. Sekolahnya tidak tinggi. Awal karirnya, dimulai dari tingkatan yang paling rendah. Tapi, banyak diantara mereka yang bisa menapak hingga ke puncak. Ada yang dari office boy menjadi direktur. Ada yang dari salesman, menjadi Country Manager. Dan ada juga yang dari penjaga gudang, menjadi CEO perusahaan besar. Kalau orang yang sekolahnya tinggi, wajar kan? Kalau orang yang memulainya dari pekerjaan awal yang keren, masuk akal. Tapi ini? Sama sekali tidak ada pijakan yang kuat untuk menjadikan mereka professional sukses. Magic? Mungkin.

Meski perlahan, tapi kendaraan kami berjalan; sekalipun mesti sering injak pedal rem. Tapi justru keadaan itu membuat saya lebih leluasa memperhatikan. Sekarang, kendaraan saya merayap tepat disamping pohon merambat itu. Dan saya mempunyai pemandangan yang sempurna untuk melihat apa yang sesungguhnya tengah terjadi. Subhanallah. Pohon merambat itu ternyata melilit di sebuah benang layang-layang yang putus. Kerangka sisa layang-layang itu tersangkut di kabel listrik diatasnya. Sehingga benangnya menjuntai hingga menyentuh beton pembatas jalan. Masya Allah. Itu pohon merambat yang lemah dan tidak berbatang, melilitkan sulur-sulurnya. Kemudian berpegangan erat di benang layang-layang.

Saya menyaksikan sendiri. Bagaimana orang-orang yang memulai karir dari bawah itu berpegang teguh kepada tekadnya yang kuat dan bulat. Untuk bisa sampai ke tingkatan yang lebih tinggi. Persis seperti sulur pohon merambat itu. Mereka sadar jika tidak ada tangga yang bisa jadi pijakan untuk naik. Maka mereka dengan sepenuh kesadaran mendaya gunakan apa saja yang ada disekitarnya untuk terus bertumbuh kembang. Pohon merambat itu, punya benang layang-layang. Sedangkan office boy itu, punya waktu luang untuk mempelajari banyak hal yang orang-orang keren tidak mau mencobanya sama sekali. Pohon merambat itu sadar, jika dirinya tidak punya batang yang kokoh untuk tumbuh. Penjaga gudang itu juga sadar, jika dirinya tidak mempunyai modal tampang, apalagi ijazah untuk dipertarungkan. Tapi keduanya – pohon merambat dan orang biasa itu – punya kemauan dan kegigihan yang tidak dimiliki oleh pohon lain dan karyawan lain dikantornya.

Saya bisa membayangkan di hari pertama sulur-sulur pohon itu bersentuhan dengan benang layang-layang itu. Pasti tidak mudah. Karena selain sangat kecil, juga tidak mau diam karena tertiup angin imbas dari mobil-mobil yang melintas. Saya juga bisa membayangkan di hari pertama pegawai-pegawai rendah itu memulai pekerjaannya. Pasti tidak gampang. Karena tugas yang harus dikerjakannya biasanya nggak menggugah selera. Mengerjakan hal-hal yang orang lain ogah melakukannya. Mengepel lantai. Mengangkut kardus. Mencuci piring dan gelas. Membersihkan toilet. Hiiiy….

Saya membayangkan. Setiap hari, pohon merambat itu tumbuh beberapa mili atau senti. Seperti Natin office boy itu yang setiap hari, belajar hal-hal baru. Sehari satu satu senti sulur pohon itu bertambah tinggi. Dan sehari, satu ilmu didapatkan office boy itu. Sebulan kemudian, sulur pohon merambat itu sudah naik hampir setengah meter lebih tinggi. Dalam tiga bulan, sulurnya sudah lebih tinggi dari pohon-pohon perdu yang memiliki batang kokoh itu. Seperti office boy itu. Perlahan tapi pasti, ilmunya bertambah. Pengetahuannya meningkat. Dan keterampilannya semakin canggih. Tiga tahun kemudian, dia lebih terampil daripada karyawan lain yang berpenampilan keren-keren itu.

Ketika saya melintas di kilometer 14.100 tol dari Cikarang menuju ke Cawang itu. Saya mendapati jika sulur pohon merambat itu sudah hampir menyentuh kabel listrik yang sangat tinggi posisinya. Ketika saya bertemu lagi dengan office boy itu beberapa belas tahun kemudian. Saya mendapati dirinya sudah duduk di sebuah ruangan yang ditempatkan di pojokan. Lokasi pavorit setiap gedung perkantoran. Dengan kursi kulit yang bisa diatur posisinya. Dengan pemandangan seantero kota yang terpampang indah bak lukisan di dinding kaca yang melindunginya. Seperti pohon merambat itu. Sekarang pegawai rendahan itu sudah berada di posisi yang lebih tinggi dari yang lainnya.

Arus lalu lintas mulai melonggar. Pedal gas sudah bisa diinjak. Saya sudah bisa melaju lagi sekarang. Namun sebelum itu. Saya melirik kearah pohon merambat itu. Mengangguk penuh hormat, sambil mengucapkan terimakasih kepadanya atas pelajaran hari ini. Sebuah pelajaran langit yang disampaikannya secara bersahaja. Lalu saya melirik kearah pohon perdu itu. Tampaknya, dia masih bertanya-tanya; “Dimanakah tangga buat saya naik keatas?” Duhai pohon perdu. Kamu punya batang yang kuat. Maka tumbuhlah dengan batangmu. Karena batangmu, bisa menjadi tanggamu. Wahai pohon perdu. Contohkan kami, bahwa dengan memberdayakan dirimu; engkau akan menemukan tanggamu sendiri. Untuk tumbuh dan menapak lebih tinggi. Percayalah wahai perduku. Bahwa Tuhan. Ssudah menyediakan untukmu; aneka rupa tangga.

Keyakinan dan Ketekunan


Sahabat yang baik,
Keyakinan menuntun kita pada keberanian.
Keberanian akan melahirkan tindakan,
Tindakan yang membawa kita pada kepastian pencapaian tujuan,

Sedangkan ketekunan menjadikan kita tidak mudah berputus asa,
Ketekunan membuat kita tidak mudah menyerah,
Ketekunan membuat kita mampu bangkit dari setiap kegagalan.
Inilah salah satu kunci dari keberhasilan.

Selama Anda memiliki keyakinan, tak ada yang tak mungkin diraih.
Selama Anda memiliki ketekunan, tidak ada tujuan yang tidak bisa diraih.
Karena belum ada yang mampu mengalahkan kekuatan keyakinan dan ketekunan.

Ingatlah, manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling baik.
Maka, melangkahlah dengan keyakinan dalam diri dan perjuangkan dengan ketekunan