1. Ketulusan
Ketulusan
menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh
semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai
karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu
mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura- pura, mencari-cari
alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya “Ya diatas Ya dan Tidak
diatas Tidak”. Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut
merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu,
ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.
2. Kerendahan Hati
Berbeda
dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendahhatian justru
mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa
bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.
3. Kesetiaan
Kesetiaan
sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yang
setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji,
punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.
4. Positive Thinking
Orang
yang bersikap positif (positive thinking) selalu berusaha melihat
segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk
sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang
lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih
suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada
mengecam, dan sebagainya.
5. Keceriaan
Karena
tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak
harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati. Orang yang
ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan
selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi,
orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan
mendorong semangat orang lain.
6. Bertanggung jawab
Orang
yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan
sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya.
Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk
disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak
akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang
bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.
7. Percaya Diri
Rasa
percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana
adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya
diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru.
Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.
8. Kebesaran Jiwa
Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang
yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci
dan permusuhan. Ketika menghadapi masa- masa sukar dia tetap tegar,
tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.
9. Easy Going
Orang
yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka
membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan
masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau
khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan
masalah-masalah yang berada di luar kontrolnya.
10. Empati
Empati
adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja
pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang
lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik
bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya
sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.
Lah, mana bisa tenteram
hati kalau kerja di kota besar seperti Jakarta. Justru orang bilang
kalau kerja di Jakarta itu seteresss. Dijalanan macet. Dikantor
sikt-sikutan. Pelanggan juga banyak maunya. Emangnya di kota lain selain
Jakarta situasinya lebih baik gitu? Soal jarak tempuh kekantor lebih
singkat sih iyya. Tapi soal lainnya, apakah lebih bisa membuat hati kita
tenteram? Nggak juga. Kalau dipikir-pikir sih, yaa plus-minus ajalah.
Ada kurangnya, dan ada pula lebihnya. Artinya, bobot tantangannya
kira-kira sebandinglah. Terus bagaimana dong caranya untuk bisa tenteram
hati?
Kalau jabatan tinggi,
baru bisa tenteram. Begitu kata orang. Kalau gaji tinggi. Kalau sudah
jadi boss. Kalau kerja diperusahaan besar. Dan kalau-kalau
lainnya. Apa iyya begitu ya? Mungkin sih. Tetapi, mari perhatikan para
pekerja yang sudah memenuhi kriteria-kriteria diatas. Apakah kita
melihat mereka berhasil mendapatkan ketenteraman hati? Kita malah sering
melihat direktur yang makin kusut wajahnya. Kita juga sering melihat
orang bergaji gede merengut setiap kali tagihan kartu kredit datang
kepadanya. Dan jangan salah loh. Yang suka ngemplang hutang ke bank kan
bukan orang-orang kere. Jelas dong, kalau semua kriteria diatas bukan
jaminan untuk meraih ketenteraman hati dalam pekerjaan. Makanya,
daripada terbelenggu oleh pandangan keliru begitu mendingan Anda temani
saya untuk belajar memahami dan menerapkan 5 prinsip NatIn (Natural
Intelligence) berikut ini:
- Tulus ikhlas dalam menjalani pekerjaan ini.
Sikap tulus ikhlas itu berkaitan dengan perasaan hati. Jika kita tulus,
maka kita tidak akan pernah kecewa ketika berhadapan dengan situasi
yang bertolak belakang dengan yang kita harapkan. Jika kita ikhlas, maka
kita tidak akan mempermasalahkan respon pihak lain yang tidak sesuai
dengan yang semestinya. Coba saja Anda perhatikan, bukankah hati kita
merasa tenteram ketika tulus dalam melakukan sesuatu untuk orang lain?
Jiwa kita tenang ketika ikhlas menerima keadaan? Maka jika ingin
tenteram, tulus ikhlas merupakan prasyarat utamanya. Tuluslah. Dan
ikhlaslah. Kita pun tenteram.
- Membaktikan diri kepada pekerjaan ini.
Banyak orang yang keberadaannya dikantor tidak dihargai karena
kinerjanya buruk. Jangan tanya berapa banyak manager diomeli oleh
direktur. Atau direktur yang gemetaran ketika harus mempresentasikan
kinerja perusahaan dihadapan para stake holder. Saya juga melihat cukup
banyak orang yang bisa berdiri tegap dihadapan siapa saja. Karena,
kinerjanya selalu bagus. Tentu kinerja bagus itu tidak didapat secara
gratis. Melainkan melalui kesediaan untuk melakukan pekerjaan dengan
sebaik-baiknya. Dan itu, hanya bisa dilakukan jika kita bersedia
membaktikan diri pada pekerjaan ini. Kerja suka-suka mungkin tidak
menguras tenaga. Tetapi, cara kerja begitu hanya menempatkan kita pada
posisi yang tidak dianggap. Berdedikasi tinggi, mungkin melelahkan. Tapi
itu memungkinkan kita meraih tempat terhormat. Hanya ketika tetap
memiliki kehormatan itu jiwa kita tenteram, bukan?
- Memberikan manfaat kepada teman sekerja.
Memberi, memang itu kata kuncinya. Kesannya akan mengurangi apa yang
kita miliki ya? Padahal tidak sama sekali. Soalnya, bukan uang yang Anda
berikan. Melainkan manfaat. Jadi, bentuk pemberiannya bisa
bermacam-macam kan. Misalnya, bantuan kecil untuk teman Anda. Atau,
sekedar uluran tangan ketika seseorang sedang pusing dengan
pekerjaannya. Atau, meringankan sedikit beban di pundak atasan Anda
dengan bertanya; apa yang bisa saya bantu untuk mengerjakannya Pak?
Nggak rugi Anda jika memberi manfaat kepada orang lain. Kenapa? Karena
mereka yang merasakan manfaat keberadaan Anda akan menyukai Anda.
Mencintai Anda. Dan menjaga Anda agar senantiasa berada bersama mereka.
Bukankah senang hati Anda jika keberadaan Anda ‘diakui’ oleh lingkungan
kerja? Makanya, banyak-banyaklah memberi manfaat kepada teman, kolega,
atau atasan Anda.
- Mencukupkan apa yang kita dapatkan.
Salah satu hal yang membuat hati kita gundah adalah ‘perasaan kurang’.
Bukan ‘kurang’ ya, tapi ‘perasaan kurang’. Kenapa saya tegaskan ini?
Karena, begitu banyak orang yang sudah punya banyak kelebihan
dibandingkan dengan orang lain namun masih juga mengatakan kurang. Dan,
banyak juga orang yang nilai kepemilikannya lebih sedikit dari orang
lain namun dengan mantap mengatakan bahwa dirinya cukup. “Ya
Alhamdulillah,” katanya dengan wajah cerah. Dan itu benar. Pendapatan
kita, sebesar apapun tidak akan pernah cukup jika kita tidak
mencukupkannya. Dan betapapun kecilnya pendapatan kita, akan bisa
memenuhi kebutuhan kita jika kita mencukupkannya. Tengok saja orang yang
selalu merasa kurang itu. Mengeluuuuh saja kerjanya. Padahal mereka
sudah mendapat lebih banyak dari orang lain. Wajar juga sih. Karena
hanya mereka yang bisa mencukupkan apa yang didapatkannya saja yang bisa
memiliki jiwa yang tenang.
- Menjaga kejujuran dalam pekerjaan.
Misalnya saja – misalnya nih ya – Anda melakukan tindakan tidak jujur
atau melanggar integritas. Anda melakukannya secara terbuka atau
sembunyi-sembunyi? Terbuka ya? Nggak mungkin. Anda pasti
menyembunyikannya. Kenapa disembunyikan? Karena kita tidak ingin orang
lain tahu. Kenapa tidak ingin orang lain tahu? Karena kita sadar bahwa
itu tidak sepatutnya kita lakukan. Lha, kalau nanti sampai orang lain
tahu gimana ya? Itulah yang terjadi. Maka akhirnya hidup kita selalu
diliputi oleh perasaan was-was. Sebaliknya. Jika selalu menjaga diri
dari tindakan-tindakan buruk; apa yang kita khawatirkan ya kan? Nyantai
aja. Orang lain ditangkepin juga ya kita tetap tenang dong. Ya iyyalah.
Kita nggak berbuat salah. Kenapa mesti gundah. Justru kita akan selalu
tenteram, jika terus menjaga nilai-nilai kejujuran.
Apa sih yang lebih
penting bagi Anda selain perasaan tenteram didalam hati? Nggak ada saya
yakin. Banyak duit juga kalau nggak tenteram mah belum tentu Anda betah
kan? Semuanya serba pas-pasan juga oke saja sih kalau jiwa kita
tenteram. Karena hanya dengan jiwa tenteram itulah kita bisa menikmati
hidup. Bukan hanya hidup didunia. Karena bagi orang-orang yang tenteram,
ada jaminan bahwa diakhirat kelak mereka akan mendapatkan tempat
terbaik. Sesuai dengan janji Ilahi dalam surah 89 (Al-Fajr) ayat 27-30
ini; “Wahai jiwa yang tenang,” Demikian Allah menyeru. “Kembalilah
kepada Tuhanmu dengan hati yang rido dan diridoi. Maka masuklah engkau
kedalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah engkau kedalam surga-Ku….”
Bismillah deh. Untuk menerapkan ke-5 prinsip itu.
Suatu saat, adzan
Maghrib tiba. Kami bersegera shalat di sebuah mesjid yang dikenal dengan
tempat mangkalnya aktivis Islam yang mempunyai kesungguhan dalam
beribadah. Di sana tampak beberapa pemuda yang berpakaian "khas Islam"
sedang menantikan waktu shalat. Kemudian, adzan berkumandang dan qamat
pun segera diperdengarkan sesudah shalat sunat. Hal yang menarik adalah
begitu sungguh-sungguhnya keinginan imam muda untuk merapikan shaf.
Tanda hitam di dahinya, bekas tanda sujud, membuat kami segan. Namun,
tatkala upaya merapikan shaf dikatakan dengan kata-kata yang agak ketus
tanpa senyuman, "Shaf, shaf, rapikan shafnya!", suasana shalat tiba-tiba
menjadi tegang karena suara lantang dan keras itu. Karuan saja, pada
waktu shalat menjadi sulit khusyu, betapa pun bacan sang imam begitu
bagus karena terbayang teguran yang keras tadi.
Seusai shalat, beberapa
jemaah shalat tadi tidak kuasa menahan lisan untuk saling bertukar
ketegangan yang akhirnya disimpulkan, mereka enggan untuk shalat di
tempat itu lagi. Pada saat yang lain, sewaktu kami berjalan-jalan di
Perth, sebuah negara bagian di Australia, tibalah kami di sebuah taman.
Sungguh mengherankan, karena hampir setiap hari berjumpa dengan penduduk
asli, mereka tersenyum dengan sangat ramah dan menyapa "Good Morning!"
atau sapa dengan tradisinya. Yang semuanya itu dilakukan dengan wajah
cerah dan kesopanan. Kami berupaya menjawab sebisanya untuk menutupi
kekagetan dan kekaguman. Ini negara yang sering kita sebut negara kaum
kafir.
Dua keadaan ini
disampaikan tidak untuk meremehkan siapapun tetapi untuk mengevaluasi
kita, ternyata luasnya ilmu, kekuatan ibadah, tingginya kedudukan, tidak
ada artinya jikalau kita kehilangan perilaku standar yang dicontohkan
Rasulullah SAW, sehingga mudah sekali merontokan kewibawaan dakwah itu
sendiri.
Ada beberapa hal yang
dapat kita lakukan dengan berinteraksi dengan sesama ini, bagaimana
kalau kita menyebutnya dengan 5 (lima) S : Senyum, salam, sapa, sopan, dan santun.
S yang pertama adalah senyum.
Kita harus meneliti relung hati kita jikalau kita tersenyum dengan
wajah jernih kita rasanya ikut terimbas bahagia. Kata-kata yang
disampaikan dengan senyuman yang tulus, rasanya lebih enak didengar
daripada dengan wajah bengis dan ketus. Senyuman menambah manisnya wajah
walaupun berkulit sangat gelap dan tua keriput. Yang menjadi
pertanyaan, apakah kita termasuk orang yang senang tersenyum untuk orang
lain? Mengapa kita berat untuk tersenyum, bahkan dengan orang yang
terdekat sekalipun. Padahal Rasulullah yang mulia tidaklah berjumpa
dengan orang lain kecuali dalam keadaan wajah yang jernih dan senyum
yang tulus. Mengapa kita begitu enggan tersenyum? Kepada orang tua,
guru, dan orang-orang yang berada di sekitar kita?
S yang kedua adalah salam. Ketika
orang mengucapkan salam kepada kita dengan keikhlasan, rasanya suasana
menjadi cair, tiba-tiba kita merasa bersaudara. Kita dengan terburu-buru
ingin menjawabnya, di situ ada nuansa tersendiri. Pertanyaannya,
mengapa kita begitu enggan untuk lebih dulu mengucapkan salam? Padahal
tidak ada resiko apapun. Kita tahu di zaman Rasulullah ada seorang
sahabat yang pergi ke pasar, khusus untuk menebarkan salam. Negara kita
mayoritas umat Islam, tetapi mengapa kita untuk mendahului mengucapkan
salam begitu enggan? Adakah yang salah dalam diri kita?
S ketiga adalah sapa. Mari
kita teliti diri kita kalau kita disapa dengan ramah oleh orang lain
rasanya suasana jadi akrab dan hangat. Tetapi kalau kita lihat di
mesjid, meski duduk seorang jamaah di sebelah kita, toh nyaris kita
jarang menyapanya, padahal sama-sama muslim, sama-sama shalat, satu
shaf, bahkan berdampingan. Mengapa kita enggan menyapa? Mengapa harus
ketus dan keras? Tidakkah kita bisa menyapa getaran kemuliaan yang hadir
bersamaan dengan sapaan kita?
S keempat, sopan.
Kita selalu terpana dengan orang yang sopan ketika duduk, ketika lewat
di depan orang tua. Kita pun menghormatinya. Pertanyaannya, apakah kita
termasuk orang yang sopan ketika duduk, berbicara, dan berinteraksi
dengan orang-orang yang lebih tua? Sering kita tidak mengukur tingkat
kesopanan kita, bahkan kita sering mengorbankannya hanya karena pegal
kaki, dengan bersolonjor misalnya. Lalu, kita relakan orang yang di
depan kita teremehkan. Patut kiranya kita bertanya pada diri kita,
apakah kita orang yang memiliki etika kesopanan atau tidak.
S kelima, santun.
Kita pun berdecak kagum melihat orang yang mendahulukan kepentingan
orang lain di angkutan umum, di jalanan, atau sedang dalam antrean, demi
kebaikan orang lain. Memang orang mengalah memberikan haknya untuk
kepentingan orang lain, untuk kebaikan. Ini adalah sebuah pesan
tersendiri. Pertanyaannya adalah, sampai sejauh mana kesantunan yang
kita miliki? Sejauh mana hak kita telah dinikmati oleh orang lain dan
untuk itu kita turut berbahagia? Sejauh mana kelapangdadaan diri kita,
sifat pemaaf ataupun kesungguhan kita untuk membalas kebaikan orang yang
kurang baik?
Saudara-saudaraku, Islam
sudah banyak disampaikan oleh aneka teori dan dalil. Begitu agung dan
indah. Yang dibutuhkan sekarang adalah, mana pribadi-pribadi yang indah
dan agung itu? Yuk, kita jadikan diri kita sebagai bukti keindahan
Islam, walau secara sederhana. Amboi, alangkah indahnya wajah yang
jernih, ceria, senyum yang tulus dan ikhlas, membahagiakan siapapun.
Betapa nyamannya suasana saat salam hangat ditebar, saling mendo'akan,
menyapa dengan ramah, lembut, dan penuh perhatian. Alangkah agungnya
pribadi kita, jika penampilan kita selalu sopan dengan siapapun dan
dalam kondisi bagaimana pun. Betapa nikmatnya dipandang, jika pribadi
kita santun, mau mendahulukan orang lain, rela mengalah dan memberikan
haknya, lapang dada,, pemaaf yang tulus, dan ingin membalas keburukan
dengan kebaikan serta kemuliaan.
Saudaraku, Insya Allah.
Andai diri kita sudah berjuang untuk berperilaku lima S ini, semoga kita
termasuk dalam golongan mujahidin dan mujahidah yang akan mengobarkan
kemuliaan Islam sebagaimana dicita-citakan Rasulullah SAW, Innama buitsu
liutammima makarimal akhlak, "Sesungguhnya aku diutus ke bumi ini untuk
menyempurnakan kemuliaan akhlak.
Setiap kita tentu tak luput dari janji dan hutang dalam kehidupan keseharian. Berapa banyak janji yang sudah kita berikan kepada orang lain ? Siapapun ia, apapun profesi pekerjaannya, apapun status hubungannya dengan kita, dalam bentuk apakah yang kita janjikan, dan seterusnya.
Rasanya memang tidak aneh, disadari atau tidak hampir dikatakan kita memberikan janji-janji kepada orang lain dengan jutaan tujuan di balik manisnya janji, dilaksanakan tidak dilaksanakan, dipenuhi atau tidak dipenuhi, menepati atau mengingkarinya, mengingat atau melupakannya, begitu mewarnai kristal-kristal janji yang berkilau ketika ditepati dan meredupnya cahaya ketika diingkari.
Mungkin saja sebagian orang sangat meremehkan sebuah janji. Jika kita pahami dengan baik janji adalah utang yang harus kita bayar dan ditepati.
Bila menengok kehidupan komunikasi dan interaksi kita sehari-hari dengan berbagai macam orang dengan berbeda status, lingkungan, keadaan, profesi, dan sebagainya, bisa jadi kita banyak melihat diri dan orang lain menggunakan janji dengan dengan berbagai tujuan dari sekedar menyenangkan hati orang lain, perbaikan kinerja dan perilaku, bahkan sampai dengan berupaya menyelamatkan diri dari sesuatu yang mengancam jiwa.
Ada seorang karyawan yang telah berjanji untuk mengajak buah hatinya minggu ini berjalan-jalan ke luar kota atau sekedar ke pusat perbelanjaan sebagai balasan atas habis waktunya yang telah dipergunakan untuk kerja lembur dan seringnya bertugas ke luar kota. Ada Seorang ayah berjanji membelikan sebuah sepeda mini yang bagus atau hadiah yang diinginkan sebagai hadiah kenaikan kelas putranya esok hari. Atau seorang Ibu berjanji menemani putrinya untuk mengerjakan PR sekolahnya atau sekedar menyanyikan lagu pengantar tidur malam ini setelah pulang dari kantor. Ada seorang teman mengajak untuk partisipasi dalam berbagai proyek pekerjaan dan usaha, dan seterusnya.. .
Apa yang terjadi dan kita bayangkan, saat sang anak mengetahui janji-janji yang telah diterima dari ayah ibunya berkali-kali tidak ditepatinya, mungkin bagi sang ayah dan ibu, kejadian itu dianggap sepele dan dapat dilakukannya di lain waktu. Tapi bagi si anak, hatinya luka dan kecewa. Apa arti sebuah janji kalau tidak bisa dipercaya? Kalau lain kali ibunya berjanji seperti itu lagi, apakah anaknya masih bisa mempercayainya?
Bagaimana dengan istri atau suami ataupun pasangan kita, tentu saja kita pernah satu kali, dua kali, sepuluh kali, bahkan ratusan kali memberikan janji, entah berjanji merubah kebiasaan buruk kita, merubah perangai yang kurang layak, kembali kepada komitmen bersama, senantiasa menyadari dan menjaga sebuah keharmonisan yang tulus, atau sekedar selalu mengingat akan menjaga kesehatan diri dan ribuan janji-janji lainnya. Pertanyaannya : sudah seberapa banyak janji yang telah ditepati dan berapa banyak janji yang diingkari?
Lalu bagaimana kita berjanji dengan teman, sahabat atau bahkan kepada rekan kerja, atasan, perusahaan bahkan kepada pelanggan kita ? coba renungkan sejenak, apa saja janji yang telah kita ucapkan dan berikan, apa saja kata-kata manis yang akan kita realisasikan dan buktikan nanti kepada mereka, seberapa banyak dari mereka yang berterima kasih untuk janji yang telah kita tepati. Seberapa banyak dari mereka yang mengingatkan kita kembali akan janji yang telah kita sebarkan, seberapa banyak kecewa bahkan kecewa dari mereka atas pengingkaran yang telah kita lakukan.
Sebaliknya bisa jadi kita pun pernah mengalami mendapatkan pengingkaran janji dari orang lain entah pasangan hidup, orang-orang yang terdekat, rekan-rekan kerja di kantor, atasan atau pimpinan di kantor tempat kita berkarya, ataupun dari para pelanggan entah apapun bentuknya dari sekedar bertemu semata, materi, promosi jabatan, fasilitas, sampai dengan perubahan perilaku atau kebiasaan yang lebih baik. Mungkin saja membuat kita gundah, kecewa, sedih, marah, dan sebagainya.
Itulah realitas kehidupan yang kita alami dan hadapi. Janji memang kadang bahkan seringkali mudah terucap. Kita kadang mudah tergoda untuk mengucapkan janji pada orang lain bahkan dengan sumpah atas nama Tuhan untuk berupaya menyakinkan orang lain agar yakin atas janji yang kita berikan atau hanya sekedar untuk menunjukkan pada orang lain bahwa kita baik. Kemarin berjanji hari ini diingkari.
Janji tetaplah janji, janji adalah hutang yang harus ditepati dan dimintakan pertanggungjawabnya kelak. Tak perlulah kita mudah berjanji jika kita tidak begitu yakin ditepati dan hanya tuk mendapatkan decak kagum dan pujian orang lain, karena menepati janji yang pernah diucapkan jauh lebih penting dan berharga ketimbang Janji indah cuma pepesan kosong.
Pertanyaannya adalah apa yang kita pikirkan di saat kita telah berjanji kepada Sang Pencipta untuk menjadi manusia yang lebih berkualitas, menjadi manusia yang memiliki ber-akhlak terpuji, menjadi manusia yang selalu bersyukur dan menjalankan segala perintah dan menjauhi laranganNYA?
Anda tahu nggak, berapa
harga sekilo gula pasir sekarang? Atau seikat bayam. Kalau tiga butir
tomat? Jika Anda tidak tahu, coba saja tanyakan kepada istri Anda di
rumah. Atau, boleh juga bertanya kepada pembantu rumah tangga Anda yang
setiap pagi bertemu dengan tukang sayur keliling. Ini bukan untuk
membuat Anda pusing. Tetapi, setidaknya kita bisa menyadari apa yang
saat ini tengah terjadi. Sebab bagaimana pun juga, orang yang sadar
bisanya lebih waspada daripada mereka yang tidak menyadari apa yang
terjadi disekelilingnya, bukan?
Pagi itu, saya sedang
asyik didepan komputer. Ide-ide beterbangan mengitari kepala saya. Dan
jemari tangan ini terus menari diantara toots-toots keyboard. Tiba-tiba
terdengar istri saya berbicara dengan asisten rumah tangga kami di
rumah. “Bu, harganya jadi 70 ribu…,” katanya.
“Emangnya apa saja yang dibeli Mbak?” balas istri saya.
“Sayur sama bumbu-bumbu, Bu….” Jawab si Mbak.
“Sekarang beli sayur dan bumbu saja sudah tujuh puluh ribu?” demikian terdengar suara istri saya lagi. “Baguuuuuuuussss…..” tambahnya.
Pas kata ‘bagus’ itu,
saya seperti sedang mendengar sebuah nyanyian dari lagu melayu di tahun
delapan puluhan. Mengalun merdu mendayu-dayu. Tapi seperti para suami
lainnya dong; saya tidak mau terlampau ambil pusing dengan urusan harga
sayuran.
“Coba kamu tanya Yono, ini harganya berapa aja…” terdengar lagi suara istri saya. “Ibu nggak akan nawar. Cuma pengen tahu aja harga masing-masingnya berapa.” Lanjutnya. Yono itu tukang sayur keliling langganan kami. Setelah terdengar suara ‘iya bu’ saya tidak mendengar apa-apa lagi.
Ketika ada kesempatan
jeda, saya beranjak dari meja kerja. Sudah tidak ada pikiran apa-apa
lagi soal harga sayur itu. Namun, maklum rumah kami ini ‘dekat
kemana-mana’ gitu loh, sehingga akhirnya melintas juga ke dapur. Lalu
secara reflex saya melirik kearah belanjaan si Mbak. Dan ketika melihat
apa saja yang bisa dibeli dengan tujuh puluh ribu rupiah itu… saya jadi
miris sendiri. ‘Gile, belanjaan seuprit begini menghabiskan uang sebanyak itu?’. Sungguh, itulah yang terbersit dibenak saya.
Alhamdulillah. Hingga
hari ini, Allah membukakan pintu rejeki untuk kami agar bisa hidup
dengan normal. Cukup saja untuk memenuhi kebutuhan hidup bergaya
sederhana. Yaaa.. seperti masyarakat Indonesia pada umumnya lah.
Alhamdulillah, pokoknya. Sekalipun begitu, tetap saja ada pertanyaan
dalam hati; apakah sudah sedemikian tingginya biaya hidup kita dizaman
ini? Bukan soal kebayar atau tidak sih. Tetapi, memikirkan betapa
harga-harga bergembira ria dan berlompatan hingga berterbangan keangkasa
raya begitu rasanya ada sesuatu yang tengah terjadi di dunia yang kita
huni ini.
Kenyataannya,
penghasilan kita rata-rata kan tidak bisa naik seperti terampilnya
harga-harga itu menapaki tangga ke puncak julangnya kan? Hebat, jika
pikiran Anda tidak terusik sama sekali. Itu tandanya pendapatan Anda
sudah sangat tinggi sekali sehingga tidak terusik oleh berapapun harga
daging sapi. Cabai merah. Garam. Sayur mayur. Dan bumbu-bumbu. Kalau
Anda belum sampai ke level itu, mungkin Anda seperti saya. Kita
memikirkan bagaimana caranya supaya bisa mendapatkan penghasilan yang
lebih baik. You are not alone my friend. Kita tingkatkan ikhtiarnya lagi
yah.
Iyya sih. Ikhitiar mah kita kan nggak pernah putus. Tapi, wajar juga dong kalau kadang bertanya juga;”Kenapa
sih orang lain kok kayaknya gampang banget dapat ini dan itu? Rumahnya
megah. Mobilnya juga mewah. Tampaknya uang mereka nggak berseri gitu
deh?”
Wajar kok bertanya
begitu. Tetapi, kita juga mesti realistis kan? Misalnya saja. Di zaman
ini memang banyak orang yang hartanya melimpah ruah. Namun tengok itu di
televisi. Baca di koran. Simak berita di media masa. Tidak semua orang
yang tajir itu mendapatkan harta mereka dengan cara yang terpuji loh.
Selama kita masih punya iman. Kita tentu tidak tertarik untuk
menghalalkan segala cara, bukan?
Bukannya kita tidak
tertarik untuk menjadi orang kaya. Saya ingin menjadi orang kaya. Sedang
berusaha terus agar bisa mewujudkan cita-cita itu. Tetapi, saya ingin
mendapatkan kekayaan itu dengan cara-cara yang Tuhan suka. Anda juga
begitu kan sahabat? Nggak gampang banget deh. Itulah yang kita rasakan.
Tetapi sahabat, hal-hal yang bernilai tinggi biasanya kan tidak semudah
membalikkan telapak tangan untuk mendapatkannya bukan?
Saya paham benar, bahwa
memang ada jalan pintas untuk menuju kepada kekayaan. Ada cara gampang
untuk memperoleh keberlimpahan. Di level pegawai yang menduduki posisi
basah, kita sudah pada tahu rahasia umum yang biasa ditempuh sekelompok
orang. Cepat bertambah pundi-pundinya. Tapi saya dan Anda, tentu tidak
menginginkan yang seperti itu. Karena cara seperti itu, jelas sekali
buruknya dihadapan Tuhan. Bahkan dihadapan sesama manusia juga sangat
rendah.
Saya memilih berbisnis
kecil-kecilan saja. Meski hasilnya tidak seukuran paus, tetapi masih
cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Kenapa tidak berbisnis besar
biar hasilnya besar? Saya bilang; belum. Mulai dari kecil juga tidak
keberatan. Insya Allah kelak akan perlahan-lahan menjadi besar juga.
Jika Anda bisa berbisnis
besar saya seneng sekali mendengarnya. Namun, jika Anda juga memulainya
sama seperti saya, marilah sahabat; kita saling memberi semangat. Agar
tetap gigih berjuang. Dan tetap istikomah dijalan yang baik. Setidaknya,
minim dari perilaku dan praktek-praktek berbisnis yang tidak patut.
Mari mulai sekarang juga. Karena akan sangat berat jika dimulai pada
usia kita yang sudah terlampau tua.
Melihat orang lain yang
kaya raya, memang sering membuat hati kita tergoda untuk mengambil jalan
pintas. Toh semuanya terpampang dihadapan kita. Tetapi sahabatku,
contohlah perilaku mereka yang kaya raya melalui usaha yang baik. Dengan
cara berusaha yang bermartabat. Mari menghindarkan diri dari mencontoh
mereka yang kaya raya dari menghalalkan segala cara.
Tidak usah terlampau
silau dengan kekayaan orang lain yang melimpah ruah, sahabat. Karena
dengan ikhtiar yang pantang menyerah pun, mungkin kita bisa mendapatkan
keberlimpahan yang sama. Jika kita gigih memperjuangkannya. Namun,
jangan lupa juga untuk terus berdoa. Agar Tuhan menunjukkan jalan yang
disukaiNya. Sehingga kita bisa terhindar dari cara-cara nista. Mengapa
demikian sahabat? Karena untuk setiap harta yang kita miliki akan ada 2
jenis pertanyaan. “Pertama, bagaimana kamu mendapatkan harta itu? Dan kedua, bagaimana cara kamu membelanjakannya.”
Oleh karenanya
sahabatku, mari terus berjuang untuk mendapatkan nafkah dengan cara yang
baik. Dan mari kita gunakan apa yang sudah kita miliki ini untuk
hal-hal yang juga baik. Agar mudah kita menjawab kedua pertanyaan itu.
Sehingga kelak, kita mendapatkan hadiah seperti yang Tuhan janjikan
dalam surah 8 (Al-Anfal) ayat 4: “ …Mereka akan mendapatkan derajat yang tinggi disisi Tuhannya. Dan ampunan. Serta rezeki yang mulia.” Maukah Anda meraih rezeki yang mulia seperti itu sahabatku? Saya, mau.
Secara harfiah, tangga
adalah alat untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. Misalnya tangga
rumah. Tangga bambu. Tangga tali. Tangga kayu. Dan sebagainya. Meskipun
bahan dan bentuknya berbeda-beda, tetapi struktur dasar dan fungsinya
sama, yaitu; memungkinkan seseorang untuk naik ke tingkatan yang lebih
tinggi. Di kantor, urusan kenaikan karir pun berkaitan dengan tangga.
Itulah sebabnya kenapa jenjang karir itu disebut sebagai career ladder
alias tangga karir. Sangat sulit bagi Anda untuk naik keatap rumah, jika
tidak menggunakan tangga bukan? Sangat sulit juga bagi Anda untuk
sampai di puncak karir, tanpa adanya alat bantu berupa career ladder
itu. Pertanyaannya adalah; apakah Anda sudah mempunyai tangga yang tepat
untuk menapaki jenjang karir Anda?
Baru-baru ini saya ada
meeting dengan klien untuk urusan training. Karena kebutuhan klien ini
sangat spesifik, maka kami memandang perlu untuk duduk bersama membahas
detailnya. Lokasi meetingnya di Cikarang. Mulai jam 2 siang, sampai jam 4
sore. Setelah selesai meeting itu, saya langsung melaju kembali kearah
Jakarta. Anda yang sering melintasi jalan tol itu tentu paham jika
sepanjang beton pembatas yang memisahkan kedua arus berlawanan di jalur
toll itu sangat gersang sekali. Hanya ada beberapa pohon perdu kecil
yang tampaknya kurang terawat. Tidak terlalu jelas antara tumbuh ataukah
merana.
Yaa seperti karir
kitalah. Nggak begitu jelas. Kemana sih arah karir ini? Buat kebanyakan
karyawan sih, karir kan tidak lebih dari sekedar sandaran untuk
mendapatkan penghidupan. Cari makan, begitulah bahasa lugasnya. Nggak
lebih dari itu. Pokoknya, bisa dapat sejumlah uang untuk menutupi
kebutuhan hidup selama sebulan. Karena kantor swasta menganut prinsip
‘kerja dulu baru gajian’, maka kita biasa menunggu tanggal 25 untuk bisa
menutupi kebutuhan selama sebulan itu. Makanya, begitu terima gaji
tanggal 25 pagi, langsung ditransfer kesana-sini pada sore harinya.
Setelah itu, ya mesti sabar sampai gajian lagi di tanggal 25 berikutnya.
Begitulah kita menjalani rutinitas. Tanpa tahu, akan bagaimanakah masa
depan karir ini.
Seperti pohon-pohon
perdu di sepanjang jalan tol itu sih. Cuman bisa termangu disitu. Tanpa
bisa bergerak kemana-mana. Sepanjang hari terhempas angin dari hembusan
mobil-mobil yang pada ngebut. Terpapar terik matahari. Terkontaminasi
polusi. Tanpa bisa beranjak pergi. Perhatikan saja; bukankah nasib
kebanyakan karyawan sama merananya seperti itu? Sudah sepuluh tahun
bekerja disitu-situ aja. Belasan tahun. Bahkan banyak yang sudah lebih
dari seperempat abad. Mengerjakan tugas yang sama. Setiap hari, kembali
berkutat dengan yang itu, dan itu lagi. Bias antara hepi dan keki.
Campur aduk antara bahagia dan sengsara.
“Kenapa karir gue tidak
kunjung membaik?” Begitulah pertanyaan yang sering mengusiknya setiap
kali merasa lelah atau jengah. “Karena gue jujur,” ada yang bilang
begitu. Padahal, kejujuran justru menjadi faktor penunjang karir
seseorang. “Karena gue bukan penjilat,” ada juga yang bilang demikian.
Padahal, tidak semua orang yang sukses dalam karirnya diraih karena
menjilat. “Karena gue nggak dekat dengan pengambil keputusan.” Dan ada
seribu sembilan ratus tujuh puluh enam jawaban lainnya dalam benak kita.
Intinya; karir kita tidak kunjung membaik karena tidak ada ‘tangga’
yang bisa membantu kita menapak ke jenjang yang lebih tinggi. Maka,
jadilah kita seperti pohon perdu disepanjang jalan tol itu. Antara ada
dan tiada, nggak jelas bedanya.
Jalanan agak macet,
sehingga saya mempunyai kesempatan untuk melihat-lihat. Tepat di antara
kilometer 14.00 dan 14.200, saya melihat sebuah pemandangan yang
menarik. Di sela-sela beton pembatas itu ada semacam pohon merambat.
Yang membuatnya menarik adalah; pohon itu tidak merambat di beton-beton
itu. Melainkan naik hingga hampir menyentuh kabel listrik yang tingginya
saya perkirakan sekitar 4 atau 5 meter diatasnya. Batin saya tertegun.
Bagaimana pohon itu bisa merambat naik? Padahal, saya sama sekali tidak
melihat ada alat bantu apapun yang memungkinkan sulur-sulur pohonnya
naik. Kalau ada tiang listrik, atau bambu atau apalah yang bisa
menyangganya kan wajar. Tapi ini? Sama sekali nggak ada alat bantu.
Magic? Mungkin.
Di banyak kantor, saya
sering melihat ‘orang-orang yang sangat biasa’. Sekolahnya tidak tinggi.
Awal karirnya, dimulai dari tingkatan yang paling rendah. Tapi, banyak
diantara mereka yang bisa menapak hingga ke puncak. Ada yang dari office
boy menjadi direktur. Ada yang dari salesman, menjadi Country Manager.
Dan ada juga yang dari penjaga gudang, menjadi CEO perusahaan besar.
Kalau orang yang sekolahnya tinggi, wajar kan? Kalau orang yang
memulainya dari pekerjaan awal yang keren, masuk akal. Tapi ini? Sama
sekali tidak ada pijakan yang kuat untuk menjadikan mereka professional
sukses. Magic? Mungkin.
Meski perlahan, tapi
kendaraan kami berjalan; sekalipun mesti sering injak pedal rem. Tapi
justru keadaan itu membuat saya lebih leluasa memperhatikan. Sekarang,
kendaraan saya merayap tepat disamping pohon merambat itu. Dan saya
mempunyai pemandangan yang sempurna untuk melihat apa yang sesungguhnya
tengah terjadi. Subhanallah. Pohon merambat itu ternyata melilit di
sebuah benang layang-layang yang putus. Kerangka sisa layang-layang itu
tersangkut di kabel listrik diatasnya. Sehingga benangnya menjuntai
hingga menyentuh beton pembatas jalan. Masya Allah. Itu pohon merambat
yang lemah dan tidak berbatang, melilitkan sulur-sulurnya. Kemudian
berpegangan erat di benang layang-layang.
Saya menyaksikan
sendiri. Bagaimana orang-orang yang memulai karir dari bawah itu
berpegang teguh kepada tekadnya yang kuat dan bulat. Untuk bisa sampai
ke tingkatan yang lebih tinggi. Persis seperti sulur pohon merambat itu.
Mereka sadar jika tidak ada tangga yang bisa jadi pijakan untuk naik.
Maka mereka dengan sepenuh kesadaran mendaya gunakan apa saja yang ada
disekitarnya untuk terus bertumbuh kembang. Pohon merambat itu, punya
benang layang-layang. Sedangkan office boy itu, punya waktu luang untuk
mempelajari banyak hal yang orang-orang keren tidak mau mencobanya sama
sekali. Pohon merambat itu sadar, jika dirinya tidak punya batang yang
kokoh untuk tumbuh. Penjaga gudang itu juga sadar, jika dirinya tidak
mempunyai modal tampang, apalagi ijazah untuk dipertarungkan. Tapi
keduanya – pohon merambat dan orang biasa itu – punya kemauan dan
kegigihan yang tidak dimiliki oleh pohon lain dan karyawan lain
dikantornya.
Saya bisa membayangkan
di hari pertama sulur-sulur pohon itu bersentuhan dengan benang
layang-layang itu. Pasti tidak mudah. Karena selain sangat kecil, juga
tidak mau diam karena tertiup angin imbas dari mobil-mobil yang
melintas. Saya juga bisa membayangkan di hari pertama pegawai-pegawai
rendah itu memulai pekerjaannya. Pasti tidak gampang. Karena tugas yang
harus dikerjakannya biasanya nggak menggugah selera. Mengerjakan hal-hal
yang orang lain ogah melakukannya. Mengepel lantai. Mengangkut kardus.
Mencuci piring dan gelas. Membersihkan toilet. Hiiiy….
Saya membayangkan.
Setiap hari, pohon merambat itu tumbuh beberapa mili atau senti. Seperti
Natin office boy itu yang setiap hari, belajar hal-hal baru. Sehari
satu satu senti sulur pohon itu bertambah tinggi. Dan sehari, satu ilmu
didapatkan office boy itu. Sebulan kemudian, sulur pohon merambat itu
sudah naik hampir setengah meter lebih tinggi. Dalam tiga bulan,
sulurnya sudah lebih tinggi dari pohon-pohon perdu yang memiliki batang
kokoh itu. Seperti office boy itu. Perlahan tapi pasti, ilmunya
bertambah. Pengetahuannya meningkat. Dan keterampilannya semakin
canggih. Tiga tahun kemudian, dia lebih terampil daripada karyawan lain
yang berpenampilan keren-keren itu.
Ketika saya melintas di
kilometer 14.100 tol dari Cikarang menuju ke Cawang itu. Saya mendapati
jika sulur pohon merambat itu sudah hampir menyentuh kabel listrik yang
sangat tinggi posisinya. Ketika saya bertemu lagi dengan office boy itu
beberapa belas tahun kemudian. Saya mendapati dirinya sudah duduk di
sebuah ruangan yang ditempatkan di pojokan. Lokasi pavorit setiap gedung
perkantoran. Dengan kursi kulit yang bisa diatur posisinya. Dengan
pemandangan seantero kota yang terpampang indah bak lukisan di dinding
kaca yang melindunginya. Seperti pohon merambat itu. Sekarang pegawai
rendahan itu sudah berada di posisi yang lebih tinggi dari yang lainnya.
Arus lalu lintas mulai
melonggar. Pedal gas sudah bisa diinjak. Saya sudah bisa melaju lagi
sekarang. Namun sebelum itu. Saya melirik kearah pohon merambat itu.
Mengangguk penuh hormat, sambil mengucapkan terimakasih kepadanya atas
pelajaran hari ini. Sebuah pelajaran langit yang disampaikannya secara
bersahaja. Lalu saya melirik kearah pohon perdu itu. Tampaknya, dia
masih bertanya-tanya; “Dimanakah tangga buat saya naik keatas?” Duhai
pohon perdu. Kamu punya batang yang kuat. Maka tumbuhlah dengan
batangmu. Karena batangmu, bisa menjadi tanggamu. Wahai pohon perdu.
Contohkan kami, bahwa dengan memberdayakan dirimu; engkau akan menemukan
tanggamu sendiri. Untuk tumbuh dan menapak lebih tinggi. Percayalah
wahai perduku. Bahwa Tuhan. Ssudah menyediakan untukmu; aneka rupa
tangga.
Sahabat yang baik,
Keyakinan menuntun kita pada keberanian.
Keberanian akan melahirkan tindakan,
Tindakan yang membawa kita pada kepastian pencapaian tujuan,
Sedangkan ketekunan menjadikan kita tidak mudah berputus asa,
Ketekunan membuat kita tidak mudah menyerah,
Ketekunan membuat kita mampu bangkit dari setiap kegagalan.
Inilah salah satu kunci dari keberhasilan.
Selama Anda memiliki keyakinan, tak ada yang tak mungkin diraih.
Selama Anda memiliki ketekunan, tidak ada tujuan yang tidak bisa diraih.
Karena belum ada yang mampu mengalahkan kekuatan keyakinan dan ketekunan.
Ingatlah, manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling baik.
Maka, melangkahlah dengan keyakinan dalam diri dan perjuangkan dengan ketekunan